Thursday, May 3, 2018

Stop Mom War Menahan Diri Agar Tak Menyakiti Hati

Stop Mom War - Menanggapi TS mak Indri di forum KEB minggu lalu, aku jadi teringat masa lalu tentang MOM War yang kualami sendiri ketika masih berada di kampung halaman. Minimnya fasilitas dan informasi yang kudapat saat itu, membuat sebagian masa lalu itu teringang kembali. Wabil khusus di daerah pedesaan, hal ini masih banyak dialami oleh mahmud (mamah muda), calon mahmud atau bahkan mereka yang telah memiliki anak lebih dari satu. Beberapa kasus yang telah ditulis oleh mak Indri di KEB tentu memberikan inspirasi baru buatku untuk tidak menjudge dan menahan untuk tetap menjaga perasaan mereka.

Karena pada dasarnya kita tidak tahu bahwa dengan tidak mengontrol setiap komenan atau perkataan kita itu akan berdampak bagi psikologis mereka.

Biasanya memang, orang tua jaman old yang masih hidup sampai detik ini tak jarang justeru menjadi pematik bagi kehidupan di jaman milenial ini. Atau jenis mertua yang justeru lebih banyak menuntut. dan suka membanding-bandingkan kehidupan kita dengan orang lain. Bisa dibayangkan bagaimana stresnya hidup dijaman itu. Ya walaupun memang tak beda jauh dengan kehidupan yang kita alami saat ini. Hanya saja yang menjadi pembeda adalah, di jaman now, mereka justeru terang-terangan mengangkat isu-isu tersebut di medsos. Yang kecepatan responnya jauh cepat melesat untuk didengar dan dibaca. Dan di antara mereka sungguh tidak pernah tahu dampak dari semua itu.

Sebagai mahmud yang notabene gaptek saat itu, aku justeru cenderung diam dan tidak mampu berbuat banyak. Berbagai kecaman dan cemoohan itu seringkali kudengar saat masa timbangan di Posyandu tiba. Beberapa emak-emak rempong saling menjatuhkan mental para mahmud. Aku juga sempat mendapat hal serupa gegara berat bayiku saat itu tak bisa nambah. Ya, bisa dibilang stagnan. Tanpa merasa peduli, mereka tetap nyinyir.

Dan bebarapa minggu ini, aku mulai mencoba menganalisa kejadian yang banyak terjadi baik di kampungku maupun di media sosial yang pastinya membahas hal yang rata-rata sama. Seperti yang aku kemukakan di bawah ini.



  • Bayi Gemuk VS Bayi Kurus
  • Sekolah Formal VS Home Schooling 
  • Melahirkan Normal VS Caesar
  • Memberi Nasi Untuk Bayi Baru Lahir VS  Asi sampai 6 Bulan
  • Tambah Anak Saat Usia Anak Masih di bawah 1 Tahun VS Menahan Diri Sampai Anak Dewasa
  • Long Distance VS Menjadi Ibu Sepenuhnya

Tulisan di atas adalah yang sememangnya terjadi di kampungku. Mungkin juga masih saja terjadi hinggga saat ini. Seperti contoh yang masih saja dibahas ketika itu,  tentang Bayi Gemuk VS Bayi Kurus. Beberapa orang lebih senang ketika melihat bayi oranglain gemuk dan menggemaskan ketimbang melihat yang kurus, hingga menjudge si ibu yang katanya tidak memberi makanan yang layak. Ingin rasanya saat itu memberitahu sang ibu untuk tetap sabar. Namun apalah daya, perkataan itu rasanya sulit sekali keluar dari bibir ini.

Lawong waktu itu cuma pendatang. Belum bisa bergaul dengan lebih dalam.

Lain nyata, lain pula hidup di dunia maya. Yang notabene sebagian orang juga ternyata lebih sadis ketimbang iblis. Eh, sorry Pembaca, maafkan aku yang kalut menilai kalian yang suka rempong tentang hal itu. Orang-orang seperti mereka memang melihat sisi lain dari kehidupan kita. Kenapa banyak dari mereka kurang menerima keadaan? Aku yakin ya karena mereka belum pernah berada di posisi di mana sang korban berada.

Mungkin, kelak jika sudah sudah di kampung halaman, aku bisa membantu mengedukasi para generasi jaman old dan now untuk tidak sembarangan menjudge oranglain. Biar mereka melakukan apapun sesuai keinginan hatinya. Entah itu terbaik atau justeru buruk bagi kehidupan mereka. Kita, sebagai penonton tak usahlah terlalu dalam memberikan statmen tentang yang benar dan baik untuk mereka. Karena apa yang kita kemukakan belum tentu itu yang terbaik.

Pernah dengar kabar bukan? seorang ibu membunuh anak-anaknya karena masalah psikologis. Banyak sekali di antara kita mungkin yang menyumpah serapah perbuatannya. Mengutuknya habis-habisan tanpa memberi solusi yang berarti. Pernah tidak terpikirkan di hati kecil kita, seandainya kita berada di posisinya.

Sebagai manusia yang beriman, seharusnya mungkin kita tidak boleh berbuat seperti hal itu. Namun, mungkin karena faktor-faktor seperti kesendirian dan tak adanya tempat untuk berbagilah yang sesunguhnya menjadi pemicu tekanan tersebut.

Buat para mahmud yang masih memiliki hati nurani, yuk tahan diri agar tak saling menyakiti hati. Karena apa yang sudah tertancap di hati, tidak akan bisa hilang secepat luka itu sendiri. Mari, saling menghargai setiap keputusan oranglain. Entah benar ataupun salah. Sememangnya kita hanya penonton yang tak perlu ikut campur kehidupan mereka. Lebih baik saling menguatkan ketimbang kita berbondong-bondong untuk saling menjatuhkan.

Peluk mereka dengan jiwa yang tulus. Dan berikan mereka harapan, bahwa yang mereka lakukan itu tak sepenuhnya salah.

Salam Emak Go-Blog
Zhiang Zie Yie 


^^Tulisan di atas adalah tanggapan pribadiku atas artikel berjudul : “Stop Mom War, Dimulai dari Diri Sendiri” yang ditulis oleh Mak Indrinoor dalam #KEBloggingCollab^^












No comments:

Post a Comment

Featured Post

2 Dokter Mata Di Hongkong Yang Paling Recommended

Hai teman-teman, buat kalian semuannya yang kemarin nanya tentang dokter mata, ini aku bagikan 2 dokter mata yang ada di Hongkong tentunya ...