Saturday, March 26, 2016

Desain Logoku RD

Hari ini, lagi semangat-semangatnya bikin logo. Yah... siapa tahu ntar aku bisa buka percetakan sendiri. amin.. Berdoa apapun dibolehkan asal yang baik-baik saja Oh ya desain ini simpel banget Pertama cuma kepikiran buat nyatuin namaku dan namanya aja. Cuma sedikit bingung memilih desain yang bagus buat logonya

Iseng sih buat macam ini. cuma pake Photoshop aja. ternyata lebih simpel ketimbang pakai corel walau awalnya rada kebingungan sih pasal kebiasaan kalau desain logo pakai corel.Tapi pada dasarnya sama aja Tinggal kita tahu nggaknya cara penggunaan tool yang ada di photoshop ataupun corel draw.

Ini aku pakai photoshop cs6. lumayan lah vitur di dalamnya. Pakai Photoshop apa aja sih bisa, ya tergantung kreatif kita masing-masinglah. Ide awal sih tulisannya macam gambar di bawah ini, Setelah aku upload di facebook kok kayaknya ada yang kurang. Lalu iseng buat tampilan yang rada beda dikit di bagian hurufnya.

Dan tara. walau nggak sebagus desain milik orang lain. Seenggaknya ini hasil creatifitasku sendiri. Yah lagi coba-coba Siapa tahu ntar ada perusahaan yang tertarik memperkerjakan aku sebagai karyawannya. #Eh....

Pengen deh bisa kerja kantoran. Punya banyak pekerjaan yang padat dengan setumpuk kegiatan Ah, mimpi keles. Tapi ngagk apalah mimpi di hari gini. TOh.. nggak ada larangan. 

Ini mimpiku.... Mana mimpimu? sudahkah kau tuliskan dalam doa,u? Mari semangat mewujudkannya .......

Readmore → Desain Logoku RD

Thursday, March 17, 2016

17 Februari 2016


Sepagi itu, aku sudah berada di kawasan Sunan Ampel,  Surabaya bagian timur. Hiruk pikuk pagi hari begitu terasa di kota ini. Bejibun kendaraan bermotor bersatu padu memacu laju kendaraan mereka. Aktifitas pagi yang menyibukkan tentunya. Aku bahkan tak bisa menyeberang jalan. Jauh berbeda dengan apa yang ada di Hongkong. Di mana selalu terdapat tempat penyebrangannya. Andai saja tak ada tangan itu, yang setia menggenggam tanganku, mungkin bisa berjam-jam aku berdiri di sisi jalan sembari mengawasi lalu lalang kendaraan.

Oh ya, aku juga banyak menemukan hal-hal seru yang belum pernah kulihat sebelumnya. Seperti penjual nasi pecel menggunakan mobil. Berderet-deret di sepanjang jalan. Kata sahabatku hal ini sudah lama terjadi. Ya, maklumlah, aku sudah tak berada di Indonesia sejak enam tahun lalu. Bagiku perubahan sekecil apapun tetap membuatku merasa aneh.

Setelah menikmati jalanan Surabaya yang padat, aku segera menunaikan janjiku untuk bertemu dengan mbak Ut. Seseorang yang banyak membantuku dalam urusan perbukuan. Ternyata orangnya canti dan cukup tinggi. Sayang nggak bisa banyak cakap di sana. Jam segitu mbak ut masih kerja. BTW thanks banget buat mbak e yang banyak membatu dan makasih udah dikasih oleh-oleh.

Lepas dari Ampel, aku melanjutkan perjalanan ke Kenjeran. Apa kau pernah datang ke sini? Aku sih baru pertama kali ini dan itu pun hanya muter-muter jalannya saja. Tak lama aku di sana, karena siang itu juga, aku harus segera pulang ke Tulungagung. Perpisahan dengan lelakiku pun ku akhiri sampai di sini.
Perjalanan pulang menuju Tulungagung, alhamdullilah sangat mulus. Banyak banget kejadian tak terduga yang kutemui setiba di Indonesia. Banyak sekali tangan-tangan malaikat yang membantu kepulangan pertamaku ini. Pertama saat lepas landas dari Hongkong. Saat tubuh ini tiba-tiba sakit. Lalu setiba di Indonesia, hampir saja kehilangan dompet yang isinya barang-barang penting semua. Alhamdullilah semuanya dapat kembali. Aku tak bisa membayangkan jika dompetku tak kembali. Mungkin aku tak bisa menceritakan hal ini sekarang.

Bertolak ke TUlungagung menggunakan bus Harapan Jaya itu emang sesuatu banget.  Empat jam kebut-kebutan di jalanan, membuat jantungku serasa mau lepas saja. Hal semacam ini tak pernah kurasakan di Hongkong. Kecuali pas naik rolling coaster di Ocean Park. Tapi ini lebih ngeri lagi. Cuma bisa bersholawat di sepanjang jalan. Ngeri-ngeri sedap pokoknya. Alhamdullilah nggak mabuk darat. Biasanya sudah koyak perut ini jika naik bus.

Ada tetanggaku yang mencibir, “wong balik ko Hongkong kok numpak bus.  Kelarangen ye lek numpak travel?”

Bagiku naik apapun asal selamat sudah cukup. Dan mereka nggak tahu rupanya. Di dalam bus itu kita bisa menikmati hidup yang sebenarnya. Banyak juga hal menarik yang kutemukan. Contohnya saja, di sepanjang jalan aku bertemu dengan seorang gadis yang ingin pergi juga ke luar negeri. Gadis yang kurasa masih belia itu menceritakan banyak alasannya kenapa ingin merantau. Ah, tak perlu kuceritakan tentu alasannya, bukan? Yang jelas Cuma doa agar dia bisa sukses nantinya.

Bukan Cuma itu saja yang kutemukan siang itu dalam bus yang membawaku ke tanah kelahiranku. Kalian masih ingat bayi yang katanya dibius dan diajak wara-wiri menjadi peminta-minta? Ah, aku juga menemui hal yang demikian. Tapi bersyukur si Ibu tak member obat bius pada bayinya. Bocah dalam gendongannya yang kutaksir berumur tiga bulan itu begitu anteng dalam gendongan ibunya. Matanya bulat dengan senyum yang menggemaskan. Ah rasanya pengen sekali mengecupnya. Tak ada foto yang bisa kuabadikan, jangan bilang Hoak ya, soalnya aku menulis dengan kejujuran :D eh

Ada juga dua orang pengamen ganteng yang sempat aku abadikan lewat kamera tangan. Permainan biola plus harmonicanya sungguh enak didengar. Kapan-kapan aku upload di youtobe deh. Nunggu wifine Simbok dulu.

Setiba di Tulungagung, kedua orang tuaku sudah menjemputku di BTA. Hari itu, untuk pertama kalinya, sejak enam tahun lalu aku tak bertemu dengan mereka. Bapak dan mamak, kini sudah tak sebugar dulu. Tapi masih tetap eksis di dunianya. Ada perubahan besar yang kulihat dari sorot mata Mamak. Beliau sudah tak setegar dulu. Kini banyak takutnya. Sejak alm. Simbah pergi, ke mana-mana harus ada yang mendampingi. Bahkan di siang bolong pun juga begitu. Ah,perpisahan itu memang bisa merenggut sebagian jiwa kita.

“Jangan bilang jiwaku tak terluka jika kau melihat kematian itu di depan mata.”

Begitu juga yang dirasakan Mamak. Aku sebegai anak perempuan satu-satunya pun bisa merasakan hal itu. Beruntung, bapak memahami kondisi mamak sekarang. Aku tak perlu was-was lagi dengan sifatnya yang sekarang suka gupuhan bila mendengar kabar buruk.

Waktu memang cepat melesat namun kasih sayang Mamak padaku tak pernah berubah sedikit pun. Masih sama seperti saat aku kecil. Walau segede ini, mamak masih ingat bila beliau makan aku pasti disuapin. :D itu yang membuatku selalu kangen padanya.

“Umur bukanlah penghalang untuk mengungkapkan kasih sayang.”



#Bapak&Mamakku



Readmore → 17 Februari 2016

Sunday, March 13, 2016

Ijinkan Aku Memilikinya di sisa Umurku


Tiga tahun sudah aku mengenalnya. Memahami karakter dan sifatnya. Bukan waktu yang singkat untuk sebuah hubungan jarak jauh ini. Pahit dan manis kisah LDR ini telah banyak kami rasakan. Kadang ada perasaan lelah untuk menjalaninya. Tapi rasa ini terlalu takut untuk ditinggal pergi. Sungguh, aku belum siap untuk berkata pisah. Rasanya memang tak sanggup.

Lelakiku teramat baik. Penyabar dan ah tentu dia yang mengerti di kala aku sedang marah. Dia bisa menerima kekuranganku. Itu yang aku dengar dari bibirnya. Entah itu jujur atau tidak. Yang kutahu dia tulus mengucapkannya.

Jangan katakan bila hubungan ini terlalu manis untuk dilihat. Ada banyak pantangan yang membuat kami sampai saat ini belum bisa bersatu. Orang tua dan ilmu kejawen salah satu penyebabnya. Kalian tahu, kedua hal inilah yang membuatku sekarang frustasi.

Sulit sekali memahami kedua sisi ini dalam nalar. Aku tak mampu mendiskripsikannya dalam otakku. Terlalu rumit memisahkannya. Cinta, orang tua dan ilmu kejawen lama. Semua bersatu padu dalam sisi kehidupan manusia. Entah percaya atau tidak, ini adalah hal nyata dalam kehidupan yang di gariskan Tuhan.

Harus berapa lama lagi kami menjalani kisah ini. Adakah ujung yang akan kutemui nanti? Aku sendiri tak tahu. Terlalu berat rasanya. Kalian tahu? Kami saling mencinta. Pun punya cita-cita yang sama, menuju ke Jannah-Nya bersama keluarga kecil kami. Ah, mungkinkah cita-cita itu bisa terlaksana?

Pernah kubertanya pada tembok -Dinding pembatas yang sampai detik ini masih setia menjadi pendengar setiaku kala gundah ini telah memuncak-   “ah, bisakah aku memilikinya?”

Dadaku sesak kala aku memikirkan ini. Sebuah perjalanan tanpa ujung, tanpa restu. Andai mereka bisa mengerti, bisa menyetujui hubungan ini. “Tuhan… di mana lagi tempatku mengadu selain-Mu?” tak banyak inginku, sungguh. Tak sebanyak sebelum aku terbebas dari belenggu itu kemarin.

Waktu terlalu cepat berputar.

Banyak orang menginginkannya. Aku pun juga. Tapi, semakin ke sini, aku semakin takut. Pikiranku mendadak kalut. “Mungkinkah dia takdirku? Atau Tuhan hanya mengirimkannya sementara saja? Bagaimana jika dia tak sabar menunggu?”

Seribu pertanyaan yang entah bisa dijawab olehnya atau tidak. Yang jelas, aku menginginkannya. Membutuhkannya di sisa umurku yang entah tak tahu kapan akan menghadap-Nya.

Sebuah Kisah (Yang Mungkin) Nyata















Readmore → Ijinkan Aku Memilikinya di sisa Umurku

Kacang Gangsar Go International

Apakabar Tulungagung…

Hei… sepertinya kini kau mulai mendunia. Apa kau tahu? Salah satu makanan yang di produksi oleh UD Gangsar kini sudah sampai Hongkong. Hari ini, aku menemukannya di kotaku. Ah, apa hanya aku saja yang baru tahu sekarang? Di kampungku, ini namanya Cang Gei. Gimana dengan kotamu? Ada yang menyebutnya Shanghai. Tapi bagi lidah jawa sepertiku ya paling enak menyebutnya Cang Gei.
Pas jamanya masih sekolah, aku paling seneng jajanan yang satu ini. Dulu masih mahal menurutku. Ya maklumlah belum bisa kerja sendiri. Untuk ukuran kantong pelajar sepertiku kudu nabung dulu untuk membelinya. Ada banyak cerita juga tentang kacang atom yang satu ini. Almahrum kakek selalu membelikan aku makanan ini saat aku main ke rumahnya. Ah, orang yang satu ini memang paling tahu apa kesukaanku. Semoga engkau tenang di sana, Kek.

Cang Gei ini emang enak dimakan dalam segala suasana. Dibuat lauk makan atau dimakan bersama doi pas lagi nonton film. Ah, Romance kek na. Sayang, sudah nggak ada moment-moment romance sekarang ini. Udah tua, malu sama yang muda. Lagian di musim sekarang udah nggak jamannya romance. Wong lagi DBPP (Duduk Berdua Pandang-Pandangan) aja kena Satpol PP. #eh… guyon

Aku berharap TUlungagung lebih mendunia suatu saat nanti. Bukan karena wisata MBOLOnya. Yang entah kenapa tempat itu begitu terkenal. Bukan juga karena segerombolan Genk Pegazuz yang mengatasnamakan kuda putih bersih bersayap dan bercula sebagai nama genknya. Yang pada dasarnya nggak ada sama sekali sisi Pegazuznya. Yang ada Cuma sekawanan orang-orang gagal piknik. Bukan, bukan itu yang kumau.

Aku ingin TUlungagung menjadi kota yang bersinar sesuai mottonya. Bersih, Indah Dan Menarik. Aku akan selalu merindukanmu Tulungagung. Karena suatu saat, aku pun akan pulang padamu. Di kotamu aku akan hidup  dan di tanahmu lah, nanti aku akan berpulang.





Readmore → Kacang Gangsar Go International

Thursday, March 10, 2016

Review Curahan Hati Sang SPG

Kelar juga ngerampungin bacaan yang satu ini. Gila, fiuh bikin deg-degan cemana gitu bacanya. Kedua benda ini cukup membantu banget. Selain bisa buat pembatas, juga bisa buat penerang kala lampu kamar padam. Maklumlah ikut orang. Semuanya serba terbatas. Termasuk nyalain lampu. Beruntung, Simbok (majikan) ngasih fasilitas yang super wow untuk kungyannya ini. So, nggak jadi masalah buat ngelarin baca-baca di kala gelap menjadi raja.

SPG, Sales Promotion Girl emang identik banget dengan cewek-cewek seksi berpakaian mini. Entah untuk narik perhatian pembeli atau hanya sekedar kejar target semata. Tapi yang jelas, di mata khalayak umum yang namanya SPG sudah pasti prediksinya semacam ini. Aku yang dulu pernah ngerasain kerja disalah satu toko pakaian yang ada di Tulungagung pun ngerasain hal yang sama yang dirasain sama Rere (tokoh utama). Berdiri berjam-jam, nawarin produk yang kita jualin. Tapi sayang perbedaan kerja jadi SPG beda sama pegawai bulanan. Ah, yang penting punya kesamaan. Sama-sama dikontrak dalam masa tertentu. Jangan tanya bayaran. Waktu itu, satu bulan cuma dibayar rp. 250.000,- perbulan. Belum termasuk makan dan minum. Bayangin aja, duit segitu, berangkat pagi, pulang malam. Demi apa coba? Ya demi buat pengalaman.

Lewat buku ini, aku jadi bisa berimajinasi tentang kehidupan beberapa SPG yang diceritain bang Wen. Emang sih, ada banyak SPG seperti Rere. Seorang gadis yang lugu, ulet, jujur dan yah penuh semangat dalam menjalani kehidupan. Tapi tak jarang pula yang seperti Vita.

Aku pernah melihat sendiri bagaimana dandanan SPG yang wow banget. Tak satu pun mata jalang lelaki itu berpaling dari body sexy yang dipertontonkan secara life dan gratis. Tua, muda berkumpul membentuk lingkaran hanya untuk bisa membidik kemolekan tubuhnya. Sungguh, bukan hanya di Indonesia saja yang demen hal macam ini. Hongkong, yang notabene negara maju pun masih demen tontonan grentongan macam itu.
Tentang Rere dalam cerita bang Wen ini, termasuk tipe SPG yang lugu. Dia nggak kayak temen-temene yang yah lebih memilih pamer body daripada pamer skill dalam diri. Contohnya saja si Vita, yang rela menjadi simpenan pria hidung belang. Banyak memang dalam kehidupan ini yang rela jadi simpenan orang berduit hanya untuk memenuhi kebutuhan dunianya. Persis banget seperti yang diceritakan dalam novel ini. Lelaki mapan itu memang banyak banget godaan. Kudu diproteck banget bila punya suami yang mapan. Yah daripada ntar mereka lari cari simpanan, kita sebagai perempuan juga kudu bisa jaga penampilan. Eh, tapi jangan tunggu suami mapan baru kita rubah penampilan.

Sebaiknya sejak mulai menikah kita kudu lebih bisa merawat body.
Ada hal lain yang tak kalah seru dalam novel ini. Tentang Sammy, pacarnya Rere. Doi digambarkan punya tubuh yang atletis. Dalam benakku sih doi punya wajah yang ganteng. Postur tinggi, berkulit putih. Ah pokoknya caem deh. Doi kerja di Gym. Itu tuh tempat bersarangnya cowok-cowok berbody six pack. Sepertinya emang keren punya calon yang punya tubuh macam itu. Bisa ngelindungin kita dari begal. Tapi lewat tulisan bang Wen, aku sedikit ngeri juga kalau seandainya punya doi berbadan six pack. Takut banyak dilirik sama cowok-cowok juga. Pan cowok berotot juga demen tuh mandengin cowok maco. Mending cari yang one pack aja. Kayak kamu. Eh iya kamu, yang ada di PP WA-ku :D

Tentang Sammy, sayang banget, doi ternyata memilih profesi sebagai Gi—lo. Entahlah, apa yang ada dipikiran bang Wen dengan menjerumuskan tokoh si Sammy ini jadi kek gitu. Yang jelas, selalu ada hal yang diluar dugaan kita. Jangan melihat orang dari sisi luarnya saja. Mending telusuri sampe kedalem-dalemnya juga. Yah, kayak si Sammy ini. Sapa yang menduga kalau dia ini seperti itu.

Hal yang paling menyakitkan itu kala kita berpisah dengan orang yang sayang sama kita. Seperti apa yang terjadi dengan hubungan si Sammy dan Rere. Ketika tahu si Sammy ini seorang Gi—lo, Re akhirnya berpisah dengannya. Tapi tahukah kalian, Tuhan selalu menyimpan kejutan di balik kesedihan. Tuhan selalu member pengganti di saat yang tak terduga sekalipun. Setelah Sammy dan Rere putus, Tuhan mengirimkan Rendy sebagai penggantinya. Lelaki yang good looking buat dijadiin calon suami. Eh… soalnya jarang-jarang deh ya punya cowok yang kayak gitu. :D mau tahu cerita tentang Rendy, baiknya beli novel SPG ini.

Novel bang Wen ini, selain penuh dramatikal, juga diselingi dengan komedi yang emang dalam kehidupan nyata ada. Contohnya si Jono. Kalau siang namanya Jono tapi kalau malam namanya Jenny. Eh, ya kurang lebihnya gitu deh. Udah bisa mendeskripsikan Jono kayak apa kan?

Pokoknya seru banget buat kamu-kamu yang lagi nganggur dan nggak ada kegiatan buat baca ini novel. Aku aja semakin semangat buat ngikutin jejak si Rere. Tapi bukan jadi SPG (Sales Promotion Girl) tapi lebih ke SPG (Smart Passionate Gorgeous)

Udah sekian dulu ya :D yang penasaran ma novelnya bisa hubungi bang Wenda Koiman. Moga mengispirasi buat kamu-kamu yang sekarang lagi menekuni profesi sebagai SPG.

Oh ya bang di halaman 17 ada kesalahan tulis nama. Dari Dina ke Dian :D tapi nggak apalah bisa dimaklumi. Wong namaku Diana saja biasa dipanggil Dina kok sama keluarga di kampung.
Anyway, top banget ini novel bang.

SUkses selalu moga bisa dibikin layar lebar lagi kek novel Mengejar Malam Pertama.

.
Readmore → Review Curahan Hati Sang SPG

Featured Post

Flash Fiction : Perempuan Yang Menginginkanku Mati

Aku tidak tau jalan pikiran apa yang merasuki perempuan ini hingga keukeh ingin membunuhku. Cairan yang tak kuketahui namanya itu, nyaris k...