Thursday, May 31, 2018

Aku Babu Go - Blog

Aku sangat bersyukur ketika bisa menginjakan kaki di negeri Beton, Hongkong. Negeri yang katanya, Surga bagi para Kung Yan alias babu. Mungkin banyak yang menilai kasar tentang penamaan tersebut. Tapi sebutan itu, entah kenapa bisa begitu mengasyikan dikalangan perantau seperti aku ini. Yah, walau bisa dibilang istilah tersebut sudah jarang sekali digunakan di dunia penulisan.Whatever. Yang jelas, aku bangga menjadi seorang babu. Karena memang begitulah nyatanya. Namaku Diana Prabandari, tapi lebih dikenal dengan nama facebook Zhiang Zie Yie. Dalam bahasa China, Zhiang artinya kebahagiaan. Setidaknya, begitulah yang dikatakan oleh majikanku saat aku menanyakannya. Dan sejak memakai nama itulah hidupku selalu bahagia. Walau kadang, masih ada bumbu-bumbu kesedihannya juga.
Beberapa tahun terakhir, aku begitu menggilai dunia blogger dan ngetrip. Sejak berada di negeri ini aktifitas ngeblog dan ngetrip semakin gencar kulakukan. Maklumlah, selama hidup di kampung halaman, aku sedikit kudet alias kurang update. Jangankan signal, untuk memperoleh akses seperti sekarang ini pun, aku tak bisa. Berbeda jauh dengan apa yang kudapatkan sekarang. Semua serba mudah, murah dan yang jelas gratis. Babu mana sih yang nggak bahagia mendapatkan segala fasilitas itu?
Nah, ini aku saat lagi nulis cerita tentang kehidupanku untuk mengikuti lomba BRICeritaDariHongkong. Aku harap nggak ada yang salah paham dan gagal fokus dengan fotonya. Maklum, memang dibuat khusus untuk mengikuti lomba.
Semua yang ku dapat di negeri Beton ini, bukanlah karena kebetulan semata. Melainkan karena doa Mamak yang tak pernah putus untuk kemudahanku dalam bekerja. Bisa kalian bayangkan, usiaku baru dua puluh saat itu. Tanpa pengetahuan dan pengalaman yang mendukung sebelumnya. Dan, Aku dituntut untuk menjadi orang yang serba bisa. Harus mampu mengatur waktu dengan tepat dan cepat. Dengan tingkat kedisiplinan yang tinggi. Yah, kebiasaan orang Hongkong yang sememangnya sudah seperti itu.
Karena terlalu sering dimanjain sama Mamak. Setelah hijrah ke Hongkong, mau nggak mau aku harus bisa beradaptasi dengan kehidupan baru. Apesnya, saat itu aku justeru mendapatkan majikan yang super over protektif. Awal mula kerja di sana, ada saja komplinan dari Sing Sang (Majikan Lelaki) yang selalu menyudutkanku. Dari mulai rambut yang wajib dipotong layaknya tentara. Tidak boleh dandan cantik layaknya wanita. Hingga peletakan barang yang wajib pas dan tepat pada tempatnya. Bahkan untuk urusan dapur, setiap hari Sing Sang selalu komplain gegara masakanya kurang enaklah. Bumbunya kurang gregetlah. Ah, ada saja komplinannya selama mengabdi dua tahun di sana. Dan ada lagi yang paling nggak bisa aku lupa hingga saat ini adalah ketika masa finish kontrak tiba, aku tetap di cap sebagai babu yang nggak bisa masak nasi. Sakit, perih. Kalian tahu nggak sih?
"Mbabu iku jan nggak kepenak, Gaes !!! Jadi pembantu itu nggak enak. Berat. Biar aku aja."
Sayangnya, cerita di majikan pertamaku itu, belum sempat Aku tulis di blog. Maklum, bukti konkretnnya kurang. Tahukan, jaman bahuela, hengpon (ponsel) yang paling berharga ya cuma nokia 3360. Itu loh, hengpon sejuta umat. Jatuh berapa kali pun tetap saja dia mampu bertahan hingga titik batereinya soak. Istilahnya, ya sampai benar-benar mati total. Persislah seperti kondisi babu hongkong asal Indonesia saat itu. Kalau nggak benar-benar menyerah, mungkin sebagian mereka akan tetap bertahan hingga masa kontrak habis. Daripada harus potong gaji dan nunggu visa yang tak kunjung turun dari imigrasi, pilihannya tetap bertahan walau mungkin bisa membuat sesak hati.
Lagian, mbabu jaman dulu, nggak seenak sekarang. Ragam informasi, baik itu tentang ketenagakerjaan, hak-hak buruh migran dan masih banyak hal lain sudah bisa diakses secara cepat, akurat dan tepercaya. Berbanding terbalik dengan jamanku dulu. Yang jika ada masalah, nggak tahu harus mengadu pada siapa. Curhat sama agensi, ah paling disuruh pulang ke rumah majikannya lagi.
Sekarang saja, setiap kejadian bisa menjadi viral. Ingatkan kasus Erwiana yang sempat menggemparkan Hongkong beberapa tahun lalu. Nah, berkat foto dan status salah satu babu Hongkong itulah, akhirnya majikan Erwiana dapat diadili dan di penjara sekarang. Dan untungnya lagi, setelah menjalani sidang berulangkali, Erwiana memenangkan sidang gugatan tentang hak-hak (ganti rugi) yang sememangnya berhak dia dapatkan. Dan dari kejadian inilah, aku sangat antusias dengan dunia blogging. Menceritakan hal-hal baru tentang kehidupanku dan teman-teman seperjuangan di Hongkong.
Akhir tahun 2011, aku dipinang oleh majikan baru. Tugas utamaku menjaga Mama (panggilanku pada nenek yang ku rawat) yang mengidap penyakit Alzheimer atau kepikunan. Awalnya sih berat. Namun, setelah mengerti dan paham betul karakteristik beliau, Alhamdullilah Aku bisa bertahan hingga sekarang ini.
Seseorang pernah bilang padaku, "aku yakin, kamu pasti bisa dapat majikan yang baik setelah ini. Soalnya, majikan yang dulu kan jahat. Biasanya akan berbanding terbalik seperti itu."
Dan sungguh tak disangka. Maha benar netizen dengan segala doanya. Aku benar-benar mendapatkan majikan yang baik sekali. Kata-kata tersebut seperti sebuah doa yang sememangnya menjadi kenyataan. Delapan tahun berada di majikan sekarang, banyak sekali kebahagiaan yang kudapat dari mereka. Entah itu berupa doa, kehidupan yang layak dan bahkan kebebasan berekspresi. Majikan bermarga Hong ini, sudah seperti keluargaku sendiri. Mereka tak pernah menganggapku sebagai seorang kung yan melainkan sudah seperti keluarga sendiri. Sungguh, mereka membiarkanku tetap menekuni hobi yang sejak beberapa tahun terakhir kujalani.
"Ngeblog dan Ngetrip." Ya, kedua kegiatan tersebut yang sekarang rutin kulakukan. Istilahnya, sambil menyelam dapat recehan. Dari tulisan dapat bayaran. Mungkin, sebagian dari mereka, beranggapan babu itu rendahan. Kelas paling bawah yang nggak punya pendidikan. Wes, banyak sekali penilaian buruk tentang babu yang saat ini berdomisili di luar negeri. Tapi jangan salah duga, babu jaman sekarang itu sudah lebih gaul dan banyak yang Go-Blog loh. Ya, contohnya aku ini. Walaupun babu, tapi seenggaknya aku tetap Go-Blog.

Kalau foto di atas, aku ambil waktu ngetrip dengan Mama di Golden Bahunia Square atau lebih dikenal dengan sebutan Bunga Emas Wanchai. Cerita lengkapnya bisa kalian baca di sini. Kalian juga bisa melihat cerita lainnya di blogku www.zhiangzieyie.com. Sebagian cerita tentang kehidupanku selama di hongkong, ngetrip bersama nenek yang ku asuh saat ini, hingga beberapa informasi tentang isu-isu buruh migran sudah ku unggah dalam blog tersebut. Ya, walau masih random. Setidaknya, Aku mencoba untuk tetap Go-Blog. Karena dari Nge-Blog, aku juga bisa dapat uang. Tak hanya itu, dua tahun lalu, aku juga mendapat juara 1 lomba blog dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional yang diadakan oleh Bapak Johannes Arifin Wijaya di Hongkong.

Senang dan sekaligus bangga. Mereka dan banyak sponsor lain yang begitu mengapresiasi dan menyemangati babu seperti aku ini untuk tetap menulis. Karena menulis, walau sememangnya bukan pekerjaan utama dan masih terlihat acakadul namun harus tetap digalakan. Agar kita bisa memberikan inspirasi dan informasi kepada dunia, bahwasanya kita (babu) khususnya tidak dipandang rendah oleh pihak manapun. Ayo menjadi babu Go-Blog dan sebarkan aura positif pada orang-orang di sekitar kita Tin Shui Wai, 2:40 am
Readmore → Aku Babu Go - Blog

Thursday, May 3, 2018

Stop Mom War Menahan Diri Agar Tak Menyakiti Hati

Stop Mom War - Menanggapi TS mak Indri di forum KEB minggu lalu, aku jadi teringat masa lalu tentang MOM War yang kualami sendiri ketika masih berada di kampung halaman. Minimnya fasilitas dan informasi yang kudapat saat itu, membuat sebagian masa lalu itu teringang kembali. Wabil khusus di daerah pedesaan, hal ini masih banyak dialami oleh mahmud (mamah muda), calon mahmud atau bahkan mereka yang telah memiliki anak lebih dari satu. Beberapa kasus yang telah ditulis oleh mak Indri di KEB tentu memberikan inspirasi baru buatku untuk tidak menjudge dan menahan untuk tetap menjaga perasaan mereka.

Karena pada dasarnya kita tidak tahu bahwa dengan tidak mengontrol setiap komenan atau perkataan kita itu akan berdampak bagi psikologis mereka.

Biasanya memang, orang tua jaman old yang masih hidup sampai detik ini tak jarang justeru menjadi pematik bagi kehidupan di jaman milenial ini. Atau jenis mertua yang justeru lebih banyak menuntut. dan suka membanding-bandingkan kehidupan kita dengan orang lain. Bisa dibayangkan bagaimana stresnya hidup dijaman itu. Ya walaupun memang tak beda jauh dengan kehidupan yang kita alami saat ini. Hanya saja yang menjadi pembeda adalah, di jaman now, mereka justeru terang-terangan mengangkat isu-isu tersebut di medsos. Yang kecepatan responnya jauh cepat melesat untuk didengar dan dibaca. Dan di antara mereka sungguh tidak pernah tahu dampak dari semua itu.

Sebagai mahmud yang notabene gaptek saat itu, aku justeru cenderung diam dan tidak mampu berbuat banyak. Berbagai kecaman dan cemoohan itu seringkali kudengar saat masa timbangan di Posyandu tiba. Beberapa emak-emak rempong saling menjatuhkan mental para mahmud. Aku juga sempat mendapat hal serupa gegara berat bayiku saat itu tak bisa nambah. Ya, bisa dibilang stagnan. Tanpa merasa peduli, mereka tetap nyinyir.

Dan bebarapa minggu ini, aku mulai mencoba menganalisa kejadian yang banyak terjadi baik di kampungku maupun di media sosial yang pastinya membahas hal yang rata-rata sama. Seperti yang aku kemukakan di bawah ini.



  • Bayi Gemuk VS Bayi Kurus
  • Sekolah Formal VS Home Schooling 
  • Melahirkan Normal VS Caesar
  • Memberi Nasi Untuk Bayi Baru Lahir VS  Asi sampai 6 Bulan
  • Tambah Anak Saat Usia Anak Masih di bawah 1 Tahun VS Menahan Diri Sampai Anak Dewasa
  • Long Distance VS Menjadi Ibu Sepenuhnya

Tulisan di atas adalah yang sememangnya terjadi di kampungku. Mungkin juga masih saja terjadi hinggga saat ini. Seperti contoh yang masih saja dibahas ketika itu,  tentang Bayi Gemuk VS Bayi Kurus. Beberapa orang lebih senang ketika melihat bayi oranglain gemuk dan menggemaskan ketimbang melihat yang kurus, hingga menjudge si ibu yang katanya tidak memberi makanan yang layak. Ingin rasanya saat itu memberitahu sang ibu untuk tetap sabar. Namun apalah daya, perkataan itu rasanya sulit sekali keluar dari bibir ini.

Lawong waktu itu cuma pendatang. Belum bisa bergaul dengan lebih dalam.

Lain nyata, lain pula hidup di dunia maya. Yang notabene sebagian orang juga ternyata lebih sadis ketimbang iblis. Eh, sorry Pembaca, maafkan aku yang kalut menilai kalian yang suka rempong tentang hal itu. Orang-orang seperti mereka memang melihat sisi lain dari kehidupan kita. Kenapa banyak dari mereka kurang menerima keadaan? Aku yakin ya karena mereka belum pernah berada di posisi di mana sang korban berada.

Mungkin, kelak jika sudah sudah di kampung halaman, aku bisa membantu mengedukasi para generasi jaman old dan now untuk tidak sembarangan menjudge oranglain. Biar mereka melakukan apapun sesuai keinginan hatinya. Entah itu terbaik atau justeru buruk bagi kehidupan mereka. Kita, sebagai penonton tak usahlah terlalu dalam memberikan statmen tentang yang benar dan baik untuk mereka. Karena apa yang kita kemukakan belum tentu itu yang terbaik.

Pernah dengar kabar bukan? seorang ibu membunuh anak-anaknya karena masalah psikologis. Banyak sekali di antara kita mungkin yang menyumpah serapah perbuatannya. Mengutuknya habis-habisan tanpa memberi solusi yang berarti. Pernah tidak terpikirkan di hati kecil kita, seandainya kita berada di posisinya.

Sebagai manusia yang beriman, seharusnya mungkin kita tidak boleh berbuat seperti hal itu. Namun, mungkin karena faktor-faktor seperti kesendirian dan tak adanya tempat untuk berbagilah yang sesunguhnya menjadi pemicu tekanan tersebut.

Buat para mahmud yang masih memiliki hati nurani, yuk tahan diri agar tak saling menyakiti hati. Karena apa yang sudah tertancap di hati, tidak akan bisa hilang secepat luka itu sendiri. Mari, saling menghargai setiap keputusan oranglain. Entah benar ataupun salah. Sememangnya kita hanya penonton yang tak perlu ikut campur kehidupan mereka. Lebih baik saling menguatkan ketimbang kita berbondong-bondong untuk saling menjatuhkan.

Peluk mereka dengan jiwa yang tulus. Dan berikan mereka harapan, bahwa yang mereka lakukan itu tak sepenuhnya salah.

Salam Emak Go-Blog
Zhiang Zie Yie 


^^Tulisan di atas adalah tanggapan pribadiku atas artikel berjudul : “Stop Mom War, Dimulai dari Diri Sendiri” yang ditulis oleh Mak Indrinoor dalam #KEBloggingCollab^^












Readmore → Stop Mom War Menahan Diri Agar Tak Menyakiti Hati