Saturday, January 31, 2015

Sebuah Rasa Di Akhir Januari

Hari ini, bulan Januari pergi. Tinggal menunggu beberapa jam lagi, bulan pun berganti. Ingin rasanya menghentikan waktu untuk sehari ini. Menikmati kebersamaan yang jarang kutemukan di hari-hari yang lain. Aku selalu menantikan hari ini, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Menunggu dan berharap ada kejutan-kejutan tak terduga dari-Nya. Hal sekecil apapun yang kuperoleh hari ini menjadi sangat bermakna. Terlebih lagi, ada sosok lelaki itu. Lelaki yang selalu membuatku tersenyum.

''Apa kau bahagia hari ini?'' tanyanya sambil menyodorkan segelas coklat panas kepadaku.

''Lebih dari itu, Ko.''

''Baguslah. Aku ikut senang,'' ujarnya. Dia mengambil posisi duduk tepat di sebelahku. Sejenak, dia melipat celana jinsnya yang panjang hingga selutut. ''Apa yang kau pikirkan?'' lanjutnya yang masih sibuk dengan celananya.

''Nggak ada.'' Pandanganku beralih darinya. ''Hanya terlalu senang saja,'' kataku sambil menatap langit. Dia tertawa mendengar jawabanku. ''Apanya yang lucu?'' aku meliriknya sekilas. Lelaki ini tersenyum. Senyum yang mampu membuat perasaanku kembali tenang.

''Kau itu yang lucu, Dai. Lihat, bibirmu kalau ngambek terlihat seperti ikan cucut,'' ujarnya sambil meremas bibirku. Tawanya pun pecah saat melihat reaksiku.

''Hais... sakit, Ko.'' Lelaki ini menarik tanganku. Menggamitkan jemarinya pada jemariku. Aku tertegun. Tak ada kata untuk beberapa menit kemudian.

''Seperti Cinta, Dai. Ada kalanya kita sakit karenanya. Walau dibalik kesakitan itu, ada bahagia yang akan datang menghampirimu. Ya, seperti saat ini.''

''Ko, apa kau menyayangi gadis itu? ''

''Sulit Dai. Kau tahu aku tidak cukup kuat dan mampu untuk pindah ke lain hati dengan cepat. Semua butuh proses. Dan aku akan melakukannya, semampuku.'' Dia menggenggam jemariku semakin erat. Aku bisa merasakan amarahnya yang menggebu. Cinta yang dirasakannya karena tuntutan. Lelaki ini serasa diwajibkan untuk cepat meminang seorang gadis yang semarga dengannya.

''Apa Koko akan menikah dengannya?''

''Kurasa itu pilihan terakhir. Aku tidak akan terus membujang, bukan? Bisa-bisa aku tidak laku karena menyandang status ''Bujang Lapuk,'' jawabnya sambil terkekeh. Aku pun ikut tertawa bersamanya. Lelaki ini memang pandai menyimpan kesedihannya. Bahkan saat putus dengan pacar pertamanya, dia tetap keukeh untuk memendam rasa sakitnya sendiri. ''Kenapa kau memandangku seperti itu? Ada yang aneh, hah?''

''Nggak, Ko. Aku cuma merasa, jika Koko butuh pundakku untuk menangis, bahuku selalu siap menopang kesedihanmu,'' kataku sambil menepuk-nepuk bahu. Lelaki ini kembali tersenyum. Dia menunduk, menatap air laut yang mulai pasang.

''Cinta itu bening, Dai. Jangan pernah sesekali kamu membuatnya keruh dengan hal-hal kecil. Karena, jika kamu nggak mampu membuatnya terlihat seperti kaca maka yang akan kau dapat hanyalah sebuah masalah yang membuat sebuah hubungan akan goyah.'' Dia diam sesaat, memainkan kakinya yang sesekali tersapu ombak.

''Dan aku tidak ingin membuat masalah dengan semua ini. Kau cukup paham, bukan?'' Aku yang masih diam, hanya mengangguk pelan. Tak berani kutatap matanya yang tiba-tiba berubah sendu. Ada lingkaran kesedihan di dalamnya.

''Aku menyayangimu, Dai. Tapi kau tahu,  kan? Agama, status dan marga kita beda. Aku tidak mungkin menentang garis hidup yang ada.''

''Aku mengerti, Ko.'' Aku mencoba menyela ucapannya. Namun, lelaki ini justeru menarikku dalam peluknya. Aku dapat merasakan degub jantungnya yang bergetar hebat. Ada perasaan aneh yang menjalar di tubuhku.

''Aku akan tetap ada untukmu, Dai. Kau tidak perlu mengkhawatirkan perasaanku. Kita hanya perlu berdamai dengan waktu. Hanya itu,'' ujarnya pelan. Kurasakan bening airmatanya jatuh. Lelaki ini menangis, cukup lama dalam pelukanku.

''Berjanjilah padaku, Ko. Berjanjilah, Koko akan selalu bahagia bersamanya. Berjanjilah, untuk terus menanamkan benih cinta pada gadis itu,'' ucapku sambil melepas pelukannya. Lelaki ini tertunduk lemah. Airmatanya masih berguguran. Jemari ini menuntunku untuk menghapusnya.

''Everything will be fine, Dai,'' uajrnya sambil sesegukan. Aku pun mengangguk. Berdiri dari atas batu karang dan mengajaknya pergi. Pergi meninggalkan senja yang tak ada. Seharian ini, langit memucat. Tak ada seberkas rona pun di sana. Aku menoleh ke belakang sesaat. Memandang laut Butterfly, di pojok kota Tuen Mun. Laut yang tanpa batas. Yang tak ada pemisah walau hanya ada pada jarak pandang mata.

 Kami beranjak pulang dalam hening. Lelaki ini memilih untuk diam di sepanjang perjalanan. Sesekali dia mendesah pelan. Aku dapat merasakannya di antara lantunan lagu ''Because Of You- Kelly Clarkson. Rasanya yang menyayat hati, ketika cinta yang kita tuju tak dapat disatukan oleh waktu.

***

Ko, kau tahu...
Hari ini aku sangat bahagia walau kau sekali pun tak bisa membaca kalimatku
Aku bahagia atas apa yang kau beri selama ini

Tentang rasa...
Tentang kasih yang tak terbatas

Ko, cinta itu seperti halnya tunas kecambah yang kau berikan padaku.
Jika aku sabar dan telaten merawatnya, ia akan terus tumbuh, menjulang sampai ke batas yang kita tidak akan tahu.

Ko, cinta itu seperti halnya jimat biru penangkal hujan ini. Walau kau sudah berusaha menangkal perasaanmu tapi kau tidak akan pernah tahu bahwa rasa itu akan tetap datang tanpa kau tahu kaan waktunya.

Ko, cinta itu seperti Boofley ini. Dia akan menjagaku dalam gelap malam walau sekalipun itu tanpamu. Membuatku tak akan pernah ketakutan lagi dalam heningnya gulita.

Ko, love you more than ever and more than anything.










Readmore → Sebuah Rasa Di Akhir Januari

Monday, January 26, 2015

Kecewa Cetak Foto Di Kodak

Gila. Sungguh gila. Hari ini serasa kejatuhan buah kelapa. Betapa kaget, galau plus tidak menyangka bakalan dapat kejadian yang sungguh membuatku mangap nggak bisa mingkem. Masih di tempat yang sama aku terpaku. Nggak beranjak barang selangkah pun.

 Ceritanya, tadi sore aku pergi ke sebuah percetakan foto yang ada di Tsuen Wan sebelah konter Hemat CSL. Niatnya mau cetak beberapa foto yang ada di memory card. Tapi pas sampai di sana, yang kelihatan bagus di ponselku cuma ada lima. Lainnya ada di memory card satunya. Terpaksa cuma cetak lima.



Namun, betapa kagetnya aku saat aku bilang sudah pada salah seorang penjaga dan dia mulai menulis pesananku pada selembar kertas, dia bilang padaku, ''harganya dua puluh dolar.'' Aku langsung terbengong-bengong. Bak disambar geledek di siang bolong. Gila benar, 5 lembar dua puluh dolar. Buset dah. Ini aku yang gaptek tulisan gedek atau ini orang memang pengen korupsi? Eh, wallahualam.





Memang, di dalam kertas tidak ada receive harganya tapi tetap saja, ini begitu memberatkanku. Bukan sih pelit tapi ya emanlah. Masak 1 lembar foto seharga $4, itu kan kalau rupiah udah sampe enam ribuan. Bener-bener spechless aku. Untung tadi cuma cetak 5 lembar, bayangkan kalau aku cetak 10 lembar bisa bangkrut aku. Mending dibeliin satu set mangkok doraemon, tinggal nambah $20. Tadinya, sih percaya aja sama temanku, saat aku tanya berapa harga cetak foto di sini. Katanya perlembar kisaran  $1. La ini kok malah kebacut. Bih, ngimpi apa aku semalam. Aku pikir, apa aku salah dengar. Bisa jadikan 1 lembar dijadikan 4 foto tapi ya nggak mungkin juga sih. Ah, nunggu ntar aja pas dapat hasilnya aja pikirku. Cuma satu jam ini, cepet lah.

Pas jam empat sore tadi, aku balik lagi. Ladalah, pas nerima hasilnya lakok tetep 5 lembar. Bih... aku langsung mengkeret. Kayak cabe kriting. Ngucek mata, nyubit pipi eh beneran deh nggak ngimpi. Alamak, dosaku padamu kemarin marah-marah.

Nggak lagi-lagi pokoknya cetak foto di mari. Sudah petugasnya nggak ramah, ngomongnya pake kasar, eh nggak taunya biaya pun juga mahal. Nyesel, sel pokok e. Tapi dah terlanjur, penyesalan selalu datang di akhir. Ada salahnya di aku juga sih, tidak bertanya dulu sebelum mencetak foto. Tapi mbok yao kira-kira kalau mau menaikkan harga kie. Masak selembar ae hargane bisa selangit. Heuh... Di tukang foto lain aja nggak sampai segitu. Hais, jadi mengkal sendiri rasane.

Buat para jamaah fesbukiah, bloggerah dan seluruh manusia alam maya, aku cuma mau mengingatkan,''sebaiknya sebelum cetak foto (di mana pun tempatnya) kita tanya dulu, berapa harga cetak di tempat itu. Bisa-bisa salah kedadean kayak aku. Eman, jan eman tenan pokok e nak sampai kayak begini. Mending nunggu ntar aja di Indonesia. Murah, bagus lagi. So, berhati-hatilah kawan. Bila ada tulisan gedek di bawah ini. Mungkin, kita mikirnya untuk 3r dan 4r, 1 lembarnya 1 dolar, untuk cetak minimal $10. Atau lebih murah lagi. Tadi pikiranku Aku sempat seperti itu. Eh, nggak taunya malah biaya 1 dolar diambil hari ini minimal $10. Dan lebih murah lagi diambil besuk, lebih murah 1 sen. Wes, njlimet pokok e belajar bahasa gedek kayak gini.



Pokoknya galakkan bertanya sebelum membeli sesuatu biar kita nggak merasa ditipu. 
Readmore → Kecewa Cetak Foto Di Kodak

Friday, January 23, 2015

Cara Cepat Membuat Email Baru Di Google

Tergelitik dengan seorang ibu-ibu yang kulihat di pasar tadi pagi. Beliau begitu kebingungan dengan ponsel barunya yang katanya sudah canggih. Tingal tutul layar pun otomatis muncul. Aku yang tak berada jauh dari tempatnya berdiri cuma bisa tersenyum. Menerawang, bahwa aku pernah berada di posisinya yang kagum dengan teknologi yang berkembang pesat, dewasa ini. Tak bisa membayangkan, beberapa hari beradaptasi dengan gadge baru. Fiuh... rasanya mumet-mumet gimana gitu. Secara biasa menggunakan keypad kasar dan sekarang menggunakan touchscreen serasa ada perubahan yang berarti. Dan ibu-ibu tadi pun mengalaminya. Terlebih saat beliau kesulitan saat membuat email. Gadis di depannya yang melihat ibu-ibu tadi sepertiya acuh atau malah mungkin nggak bisa. Terlihat dari gayanya yang sok sibuk dengan poselnya tanpa ada niatan untuk membantu kesulitan orang di depannya. Andai aku di depannya pasti sudah kubuatkan. Sayang, si Boboku yang punya penyakit ngeyel plus alzheimer ini, tidak suka melihatku berbicara dengan orang lain. So, gegara ibu-ibu tadi aku jadi punya inspirasi untuk menuliskan tips bagaimana cara membuat e-mail di Google. Sangat mudah sekali caranya. Tidak ada lima menit, semua sudah beres.

Ok, Cekidot Yuk.....

1. Pastikan ponselmu sudah terhubung dengan internet. Lalu, ketik  www.google.com di mesin pencarian.



2. Klik Sign In pada pojok kanan gambar.



3. Nanti akan muncul jendela baru. Klik Create An Account/ Buat akun baru.



4. Isi semua data dan pastikan semua lengkap
Jika ada tanda merah seperti di gambar. Berarti kamu melakukan kesalahan. Cek kembali. Kemungkinan Nama Email dan Password salah. Pokoknya ditelititi di mana ada tanda garis merahnya. Pastikan pula kamu mencentang kotak persetujuan itu.


5. Jika sudah, kamu akan diminta untuk memverifikasi email yang tadi kamu buat. Bisa kamu masukkan nomor ponselmu. Dan eyang Google akan memberikan kode veritifikasi lewat sms. Silahkan kamu masukkan.


Dan, Taraaaaaaa......





Selesai sudah. Gampangkan?

Cepet banget kok asal kita teliti. So, nggak perlu bertanya pada orang yang sok tapi sejatinya dia juga nggak paham. Mulailah belajar sendiri dan jangan pernah takut salah. Karena dari kesalahan itulah pelajaran yang sebenarnya kita dapat.

Kayau buat Buruh Migran Indonesia

Semoga bermanfaat.....

Readmore → Cara Cepat Membuat Email Baru Di Google

Thursday, January 22, 2015

Racun Cinta

Sunbae, hari ini aku sudah memenuhi semua tantanganmu. Sekarang aku sudah bisa dikatakan sebagai perempuan dewasa, kan? Hari ini, sesuai persyaratanmu, aku memakannya. Walau dengan berat hati dan tidak ikhlas. Apa aku terlihat bodoh, Sunbae? Mempercayai perkataanmu yang konon katanya jika memakan ramuan itu aku bisa berubah menjadi perempuan yang lebih anggun, elegan dan satu hal, tidak kekanak-kanakan lagi. Apa selama ini aku seperti bocah tak punya pikiran, hah?

Kau tahu, Sunbae? Perutku kini, tiba-tiba memanas. Blekutuk-blekutuk begitu bunyinya. Lambungku sempat perih sesaat. Dan sekarang, rasanya aku tidak bisa bobok dengan nyenyak gegara perutku terus bernyanyi dan berdancing, ha ha hi hi.

Aih... Kenapa aku terlalu menurut padamu, Sunbae? Kenapa coba? Padahal kau tahu, ramuanmu itu racun, bukan candu. Apa karena aku terlalu menyukaimu hingga apapun yang kau katakan hanya bisa kuiyakan tanpa memikirkan akibat dibelakang. Puh, Sunbae... Jantungku serasa berdetak-detak tak karuan. Berpacu bagai melodi yang tak bisa diiringi oleh alat musik apapun.

Oh...

 Apakah ini yang dinamakan Cinta, Sunbae? Ketika dirasa hanya ucap iya sebagai jawabnya.
Apakah ini yang dinamakan Cinta? Ketika cabe berubah menjadi mente.
Apakah ini yang dinamakan Cinta? Yang bisa menyulap racun menjadi sabun. Eh... Jadi jaka sembung

Oh... Yang jelas, ini yang dinamakan Racun Cinta. Hingga tai kucing rasa coklat. Pokoknya manis, Nis. Tapi aku emoh maem kotorane kucing. Walaupun rasane coklat. Gilani.

Menjawab tantanganmu hari kemarin, yang katamu aku masih terlihat seperti gadis belasan tahun karena tetap sedikit pun tak suka cabe. Maka hari ini aku memproklamasikan diri membuat racun cabe spesial untuk diriku sendiri. Jangan tanya rasanya. Pokok e yawes ngunu iku. Kau sudah tahu aku tidak begitu hebat dalam urusan dapur. Pokok e aku doyan, gitu ae wes. Ndak mau repot juga akunya.

Kau mau tahu resepnya, Sunbae?

Tadi aku beli tomat 6 butir. Tak pakai 4 butir, yang 2 butir buat justomat. Cabenya $ 6 nggak ngitung. Bawang putih 1 bungkul. Sedikit jahe dan 4 ekor ikan (giling). Tadi semua bahan aku goreng, kasih garam lalu ditumbuk. Dan jadilah.






Rasanya? Pokoknya jangan ditanya. Melebihi racun tikus walau aku belum pernah minum racun itu. Aku sendiri antara kolu dan ndak kolu memakan racun ini. Tapi demi kau. Demi kata-katamu. Demi janjimu, Sunbae. Aku rela menelannya. Memasukkannya ke dalam perutku. Memperkenalkan pada usus kecil, lanjut ke usus besar dan melelehkannya menjadi sebuah energi paling OYE. Tapi ini bukannya OYE malah NGGLELE. Bih, aku jan kayak orang keracunan sungguhan. Mungkin, jika yang buat racun ini Mamase aku, pasti agak sedikit enak. Bahkan mungkin juga enak. Kau tahulah, tangan Mamase aku lebih hebat dalam urusan perdapuran daripada aku. Pokoknya Mamase aku is the bestlah. Tak ada yang menandingi. Sifu di restoran pun kalah. Apalagi dia, si Cep Juna. Jauh.......!

Oh ya Sunbae, kau benar plus jenius. Benar katamu, racun ini dapat membuatku seketika menangis. Sejadi-jadinya, maah. Hal yang paling susah kulakuan beberapa hari ini. Aih, serasa menemukan cara jika hati sedang mengkal dan ingin menangis. Ya, tentu. Dengan memakan racun ini. Entah, akan habis berapa bulan. Aku tidak bisa memastikan. Yang jelas, aku akan memakannya sedikit demi sedikit supaya cepat gede. Eh... Kau sendiri kan yang bilang, ''orang yang gemar makan cabe pasti cepet gede.'' Dan aku akan memakannya, biar cara pandang kita sama.

Sunbae... Rasanya aku kehabisan kata
Selamat malam saja ya, Sunbae.
Semoga kau selalu bahagia di sana.

Readmore → Racun Cinta

Wednesday, January 21, 2015

KARTU SETAN (KTKLN)

Kartu Setan

Siapa sih yang tidak kenal kartu mengerikan ini. Kusus bagi kami (BMI) kartu ini sungguh menjadi momok paling mengerikan beberapa tahun terakhir. Bagaimana tidak, gegara kartu setan ini banyak dari kami merasa dirugikan atas muncul dan beredarnya kartu yang katanya Sakti bin Mandragaide. Eh...

Tadi siang, seorang teman menelponku. Di mana bisa buat kartu Setan ini. ''Haiya... nggak perlu buatlah. Ngapain coba buat? Orang kartune nggak berguna kok,'' ujarku padanya. Namun, karena temanku ini cukup gusar dan khawatir akan perihal kartu menyesatkan ini, terpaksalah dia ingin membuatnya.

Dulu, aku sempat tidak mengerti apa gunanya kartu setan. Namun lambat laun aku mengerti, kartu setan ini berfungsi sebagai penggendut kantong-kantong petugas imigrasi di bandara kusus BMI. Kenapa aku bisa berpendapat seperti ini, itu karena beberapa kali temanku yang pulang ke Indonesia dan kembali ke luar negeri terpaksa diminta uangnya untuk membuat kartu setan tak bermanfaat ini. Jumlahnya pun berfariasi. Ada yang lima ratus ribu. Ada juga yang sampai dua juta rupiah. Nilai yang fantastis bukan untuk seukuran kami.

Dulu, karena tidak tahuanku, aku pun nurut kata PJTKI yang memberangkatkanku ke negeri Bahuela ini untuk membuat kartu setan ini. Alasanya sebagai pelengkap. Namanya baru pertama kali ke luar negeri. Ya pasti seperti bola. Digiring sana, ok. Digiring sini pun juga, ok. Pokoknya nurut bin manut apa kata tuannya.

Dan setelah mendapatkan kartu setan ini, tahun 2009 lalu aku menyimpannya sampai masa kadaluarsanya habis. Entah kenapa aku ingin menyimpannya. Pengennya sih dibuat bandul kunci. Kerenkan? bekas ngelayap ke luar negeri gitu loh. Kartu Setan ini punya jangka waktunya. Kayak kehidupan. Yang pasti ada titik dimana dia harus mati. Dan masanya cukup pendek. Cuma dua tahun saja. Beda sekali dengan KTP Hongkong, masanya seumur hidup. Bahkan sampai mati pun kita tetap terdaftar pernah ada di Hongkong. Coba kalau kita mati terus tengok-tengok sikit sambil bawa KTP Hongkong ke Imigrasi, pasti petugasnya pada ngenalin. Bahwa kita pernah ada di sini, surga dunia bagi BMI.

Ngomong-ngomong soal kartu setan. Aku sempat buat dua kali. Pertama saat mau berangkat ke luar negeri dan terakhir tiga tahun lalu, saat aku ingin pulang tapi tidak jadi. Kenapa tidak jadi? Ya karena urusan pribadi. Pengen tahu aja....

Kartu setan ini sempat beberapa kali di demo. Banyak kalangan organisasi BMI yang menolak kartu biadab (setan. Red) ini. Alasanya ya beragam. Selain tak bermanfaat banyak pula penipuan yang ditimbulkan atas hadirnya kartu warisan bapak Jumhur ini, mantan Ketua BNP2TKI. Pak Jumhur ini memang pintar. Pintar nggobloki maksud e. Kalau tidak pintar mana mungkin diangkat menjadi ketua. Eh...

Sebenarnya, aku juga tidak tahu asal usul bapak yang satu ini. Sampai pada akhirnya namanya menjadi buah bibir plus buah simalakama bagi BMI. Aku masih ingat, beberapa posternya yang terpajang di baliho besar bersama pak ESBEYE beberapa tahun lalu. Dan aku hanya bisa bilang, ''Oh ini toh ketua kartu Setan itu." Wajahnya lumayan, sempat juga aku buat karikaturnya dan kuikutkan lomba poster yang diadakan oleh sebuah organisasi. Alhamdulillah, walau nggak dapat yang pertama setidaknya gegara pak Ketua ini, aku dapat dua penghargaan sekaligus. Ibarat kata sambil menyelam minum susu. Biar nggak kembung minum air terus.

Back ke kartu setan. Maaf Tan, lagi-lagi aku melibatkanmu. Karena kamu termasuk makhluk Tuhan yang paling menyengsarakan umat manusia. Eh....

Pembuatan kartu ini (di Hongkong) cukup mudah sebenarnya. Tinggal bawa paspor, kontrak kerja, pohim (surat asuransi), KTP Hongkong dan nomor telepon. Tempat pembuatannya pun disediakan. Aneh kan? Di demo tapi juga difasilitasi sama mbak-mbak organisasi. Iki pie toh...? Dan gobloknya aku, juga ikut-ikut buat plus antri setengah hari lamanya. Untung aku nggak pernah ikut demo. Maklum belum masuk organisasi jadi masih utun. Ikut gusar dengan keadaan. Daripada buat di Indonesia, tidak setiap daerah ada. Hanya ada di jantung-jantung kota. Seperti, Surabaya, Semarang dan Jakarta (daerah ini yang aku tahu, lainnya Emboh).

Dulu, aku membuatnya di Prince Edward. Di sebuah selter BMI (lupa nama selter). Pagi datang jam 10:30, ambil formulir dan langsung antri (berdiri) hingga pukul 7:00 pm (malam) itu pun sempat berdemo ria di depan selter yang berukuran kecil itu. Pasalnya, nasib pengantri terkatung-katung tidak jelas. Formulir yang dikeluarkan melebihi kuota. Ada orang datang, kasih formulir dan terus antri. Ia kalau yang antri cuma puluhan, lha ini ratusan e. Antrian panjang bak ular berjalan di atas kereta api. Ngesot, gremet-gremet gitu jalane. Aku sampai dibawakan makanan oleh temanku tadi. Bayangkan, harus menahan rasa lapar dan kencing yang ditahan. Opo ra mbeseseg perutku... Ini masih mending daripada harus antri di Indonesia. Maklum, pembuatan kartu setan di Hongkong tanpa biaya alias gratis. Manusia mana sih yang nggak demen acara gratisan. Bahkan orang Hongkong sekalipun, selalu antri koran di setiap hari kerja. Nenek, kakek yang tak punya kegiatan antri berputar keliling loper koran (gratis) menyimpannya dalam tas dan apabila penuh sesuai target dapat dijual kembali. Lha kalau kartu setan ini dapat dijual kembali lak enak. Wong ini nggak bisa, gimana coba? Buat pajangan dompet, iya.



Haihhhhh.... Cukup pening juga memikirkan kartu yang satu ini. Apa sih hebatnya? Kenapa masih dipertahankan? Secara bapakku sudah memproklamirkan bahwa Kartu ini dihapus. Kenapa cecunguk itu justeru membuletkan keadaan, yang katanya Kartu Setan itu penting. Tolong dibaca pak.

Selama aku kerja lima tahun di sini. Kartu Setanmu itu adem ayem, meneng anteng, mbegegeg nggak berkutik di dalam dompet. Saat aku pergi ke Macau cop visa kartu itu sungguh tidak berguna. Saat pembaharuan paspor di KJRI, tidak ditanya. Pas cop visa untuk kedua kalinya di China juga tidak dipermasalahkan. Lalu kenapa saat aku dan para BMI pulang ke tanah air, justeru kartu Setan ini jadi bahan buat kalian melakukan pemerasan. Alasan kalian itu memang pintar. Katamu mereka hanya oknum yang tak bertanggungjawab. Itu bukan urusan kalian. La nak mergo dudu lambemu (pak pejabat red) sing woro-woro masak mereka bakal berbuat semacam itu pada kami (BMI) maaf soyo suwe, soyo mangkel. Hatiku mengkap-mengkap. Sungguh.

Untukmu Setan, pLease deh... Jangan membisikkan, menghasut orang-orang munafik itu. Koncomu iku wes akeh, masak kau kurang puas hah.... Sebenarnya, Tuhan benar menciptakanmu dari api dan memberimu nama yang pantas. Setan. Yang punya nafsu berapi-api untuk menguasai anak cucu adam di muka bumi.

-__- sekian dulu, tiba-tiba hatiku mengkal.

Readmore → KARTU SETAN (KTKLN)

Saturday, January 3, 2015

Menantang Maut



Readmore → Menantang Maut

Mar


Mar...! Astaga, Mar....! bodymu sexy sekali pagi ini. Semloyhai banget,  sudah mirip Maimar di film telenovela jaman baheula aja kau, hah...! Dulu bodymu kayaknya nggak seperti ini. Kau dulu gepeng plus kerempeng. Kok sekarang tiba-tiba gemuk, nylenuk, ginuk-ginuk pula. Hentakanmu bagai badak menggetarkan bumi. Apalagi egolanmu, puh... Macam peibahasa asem kecut gula jawa, semakin kecut tapi tetep menggoda. Aih.... Bagaimana bisa sekarang wujutmu berubah layaknya Sah-rini, Mar? Yang pabila berjalan menjadi sorotan televisi. Heuh... Kampretlah... kau, Mar. Bikin aku melongo sampai nggak mingkem-mingkem. Jamu cap apa yang kau minum itu? Mbok ya si Yanti itu dibagi resepnya. Biar dia rada nyempluk sedikit.

Oh, ya... Kemarin ada kabar burung tentang kau, Mar, dari Wak Taslim. Katanya, kau sudah migrasi ke sini. Aku sempat tak percaya kau ada di negerinya si Om Jacky Chan. Kau tau sendirilah, Wak Taslim itu tukang ngibul, omonganya nggak ada yang bener. E...La kok sekarang ndilalah kersaning Gusti Allah, aku bertatap muka denganmu. Alhamdullilah... banget. Tapi kok sifatmu masih sama, Mar. Masih seperti yang dulu. Pendiam dan tak banyak bicara. Tapi, yang membuatku bingung, kulitmu itu lo kok jadi putih langsat. Dulu, badanmu kuning kecoklatan, hampir setengah gosong macam pantat dandang. Jangan-jangan kau operasi plastik ya? Ingat, Mar... Jika kau operasi plastik bumi ini takkan bisa menerimamu. Kenapa? Karena plastik itu nggak bisa didaur ulang oleh tanah. Wes to percoyo aku, sak elek-elek e rupamu yo panggah tetep elek nak tumindakmu ora becik. So, don't try it. 

Tadi pun, aku sampai terperanjar loh saat Koko memberitahuku bahwa untuk menikmati dan merasakan setiap lekuk tubuhmu, aku harus mengeluarkan gocek yang cukup membuatku mengusap peluh. Bukankah kita karib, Mar? masak kau sebegitu tega membandrol dirimu sendiri. Apa kau nggak ingat? Dulu kita biasa bertatap muka. Berenang bersama di sungai. Kau selalu lari terbirit-birit dan berakhir megap-megap saat mentas dari sungai. Aku sering menertawai tingkah konyolmu itu. Mulutmu itu loh, sudah nyunsep diantara nonongmu terlihat seksi pula. Pengen tak remet-remet pokok e.

Hari ini kalau nggak gegara kakek menyuruhku mencari sosok sebangsamu yang ping ping( red. gepeng bhs Shanghai) tentu aku tidak akan bakar dupa plus nyumet lilin di rumah. Macam orang lagi ngepet tau nggak, Mar. Apalahi pas si Koko yang kutemui pagi tadi bilang, ''mo jin em sai mai, loh." Nggak ada uang nggak usah beli lah. Gegara kamu tak tawar. Siapa yang nggak  tertegun dan berhenti bernafas (satu detik) coba. Koko itu membandrolmu dengan harga yang tak tanggung-tanggung. Lima puluh sembilan dolar. Itu kalau di rumahku sudah bisa makan gethuk, kicak, cenil lan sak panunggalane sak kenyange, Mar. Bahkan, sampai blokek. 

Huwala, Mar... Mar... kau sekarang sudah mirip pekerja pronstitusi yang ada di gang Dolly.  Semua orang bisa menatapmu saat kau tak pakai baju. Memegangmu dengan seenaknya. Dan bila mereka tidak suka, bisa menghempaskanmu begitu saja. Tanpa perlu membayar pada orang yang dengan senang hati menjualmu. Namun, tempat itu sekarang sudah ditutup oleh Bu Rismawati. Ndak baik soalnya tetap mempertahankan kemaksiatan di muka bumi ini. Dunia sudah tua, Mar. Takut kena azab kayak peristiwa Lapindo. Semua desa yang ada di Porong, Sidoarjo karam. Ah, kau sudah tau lama lah. Kan, rumah pak De Mani dekat sekali sama daerah situ. Bahkan, dulu kau sering mengeluh, air yang biasa kau minum sudah bercampur lumpur. Kau juga sering keracunan, keluargamu pun ikut tewas dalam peristiwa mematikan itu, Mar. Aku turut berduka, Mar. Untuk bapak, ibu, kakek, nenek buyut dan sekrandah orang Indonesia. 

Ah, Mar.... aku terlalu berkeluh tentang perjumpaan kita. Mungkin juga kau tak sudi mengulang cerita lama. Aku tau sifatmu, Mar yang tak ingin mengulang sejarah. Sejarah yanh kelam tak perlu dikenang jika tetap memaksa untuk mengenang akhirnya pasti berubah menjadi dendam. Simpan yang baik-baik saja di hati agar lebih menentramkan nurani. 

Aku percaya, Mar. Kau masih menyimpan MUSTIKA MANIK ASTAGINA, yang mempunyai delapan daya untuk menjagamu dari hal-hal hina. Ah, aku pun masih percaya kau masih menjalankan ritual itu, Mar. Ritual yang semua orang tau dan paling banyak dikerjakan oleh bangsaku. Mar, aku akan tetap mengagumimu sebagai sosok seorang SEMAR, putra HYANG WISESA dari alam antah berantah yang terselip di dunia ini.













Readmore → Mar

Kebelet







Readmore → Kebelet

Friday, January 2, 2015

Su

Su... Hari ini aku sungguh tercengang melihat penampilan barumu. Lima tahun yang lalu, terakhir kali aku bertemu denganmu. Itupun hanya sebatas suaramu yang meraung-raung dari balik pintu besi, seperti rengekan bayi yang minta disusui ibunya. Masih jelas sosokmu difoto kala itu, Su. Kau masih terlihat dekil. Matamu juga tak bisa terbuka secara sempurna, tertutup oleh kotoran yang menjijikkan. Kau bahkan tak bisa tersenyum seperti sekarang ini. Ah, Su... kau sudah jauh berbeda dari perkiraanku sekarang, Su.




Su, sungguh mulia hidupmu di kota ini. Kau termasuk salah satu yang beruntung karena diadopsi oleh keluarga Singkek muda itu. Banyak kerabat dan penghuni sekitar rumah yang sayang sekali padamu. Bahkan, Singkek muda itu rela mengeluarkan uang berjuta-juta hanya demi melihatmu  kembali normal. Singkek muda itu juga sudah mengambil seorang pembantu untuk mengasuhmu.  


Kemarin, saat pembantumu yang juga temanku menelpon, dia banyak cerita tentangmu, Su. Sekarang, kau lebih manja katanya. Makan pakai acara suap-suapan. Bayangkan kalau di Indonesia, sudah kena ciduk KPK  kau ini. Terlebih temanku bilang kau tak mau minum sendiri. Temanku harus mencangar mulutmu agar kau mau minum barang seteguk. Bahkan saat mandi pun kau minta dimandiin. Tidur minta dikelonin, enak juga ya menjadi kau ini. Tak terbayang nasib para jomblo di Indonesia yang sekali merana karena malam jumat dan minggu tiba. Aih... mereka selalu oar-koar di mana-mana. Ajegile manjanya kau ini, Su. Bagaimana bisa makhluk sepertimu mendapat perlakuan spesial bak dewa-dewi di Kahyangan itu, Su? Huwala, Su, nikmat mana yang kau dustakan sekarang.

Lihatlah, kau jadi lebih cantik dari yang lain, sebangsamu. Kau senantiasa memakai baju di kala manusia (sebangsaku) bertelanjang tanpa rasa malu. Kau bahkan mulai membiasakan diri mengenakannya walau aku tau kau terlihat risih. Jalanmu tak seperti anjing normal. Terseok-seok, karena kain itu terlalu panjang untuk kau kenakan. Sempat, kau tersungkur dan jatuh. Tulangmu patah dan harus dioperasi. Kasihan sekali kau, Su. Perjuanganmu memakai baju justeru menyengsarakanmu. Yang sabar ya, Su. Kesabaran selalu membuahkan kesuksesan. Masih banyak sebangsamu yang hidupnya susah. Kau ingin tau ceritaku tentang bangsamu di desaku, Su. Mereka semua jarang mendapat perlakuan baik. Bahkan, lebih buruk dari saat pertama kali kau lahir. Mereka mendapat makanan basi pun jarang mandi. Tiap malam melolong seperti srigala merindukan purnama. Aih, ngeri pokoknya, Su.




Oh ya, Su, kemarin kau ulang tahun, bukan? Tentu sudah bertambah lagi umurmu sekarang. Seharusnya, kau bisa merubah perlakuan burukmu itu. Kau tahu? Dengan bertambahnya umur tentu berkuranglah masamu di dunia yang fana ini. Kau harusnya memberi sedikit kelonggaran pada temanku, agar dia bisa beristirahat barang sejenak. Tidak malah merepotkannya saat Singkek muda itu pacaran di rumah. Harusnya kau bisa sedikit manja pada Singkek mudamu itu agar dia bisa lebih mengerti bagaimana manjanya kau sekarang. Kenapa kau tak berfikir sampai ke situ, hah? Mungkin, aku sedikit kurang waras karena mengajakmu berbicara lewat coretan kata seperti ini. Apalagi menyampaikannya di Sosmed. Karena, aku tau kau hanya seekor binatang yang tak punya akal dan bisa membaca setiap kalimat yang kulontarkan. Namun, dibalik itu semua aku tau, kau mengerti tentang perasaanku padamu, Su. 








Su, kiranya sudah panjang sekali tulisan tentangmu ini. Kuharap, para readerku paham apa yang aku sampaikan tentangmu. Berharap pula, mereka dapat mengambil sisi baik darimu. Walau kau hanya seekor anjing yang bernasib mujur.







Readmore → Su

Mo

Mo, aku dengar kabar dari Sri, sekarang kamu tak lagi bersamanya, benarkah itu, Mo? Kalau benar, aku sangat bersyukur atas perpisahanmu. Bukannya, aku sedang tertawa di atas penderitaanmu. Tapi kau tau sendirilah, bagaimana kejamnya perlakuan Sri terhadapmu. Aku sampai nggak tega, Mo, lihatnya. Sumprit, deh.

Sri Saat Mau Ultah



Sri itu memang baik, Mo. Dia tidak sombong, rajin menabung dan yang lebih hebat lagi dia sangat terkenal di jejaringan sosial maupun aliansi buruh migran Indonesia di Hongkong. Beberapa bulan lalu, sebelum dia memutuskan untuk hengkang dalam dunia perkungyanan di sini, aku sempat melihat serta bertatap muka dengan wajah Sri yang bunder seser itu, Mo. Dia jadi MC di perayaan Idul Fitri di kampung Jawa, Victory. Dengar suara si Sri nge-Mc sambil nyanyi-nyanyi membuat bulu romaku berdiri. MasyaAllah, Mo, suaranya itu lho mendayu-dayu bak artis Malaysia yang menyanyikan lagu rindu. Pantas saja kau sampai jatuh bangun bin termehek-mehek sama dia. Oh, iya, Sri juga sempat memberiku selembar sertifikat gegara aku menang kuis yang diadakan olehnya di Forum BMI loh, Mo. Tapi, sayangnya sertifikat itu bukan sertifikat rumah atau sertifikat tanah, kalau iya sih betapa pemurahnya dia pada kaum wanita ya, Mo. Ini cerita baiknya si Sri, Mo. Sewaktu dia mengadu nasib di sini. Tapi kok kenapa sama kamu justeru si Sri ini bencinya setengah mati sih, Mo? Apa yang telah kamu lakukan padanya, hah? Apa kau telah melukai hatinya hingga si Sri patah hati. Atau jangan-jangan kau telah mendua lagi? Huwala, Mo... Mo...  kejam sekali kau ini, selalu bergonta-ganti hati. Loncat ke sana, loncat ke sini. Sudah macam pocong kali kau. Pantas saja, Simboknya Sri selalu koar-koar kalau kamu itu wes dikek i ati sih ngrogoh rempelo (dikasih hati minta ampela). Eh, aku kok jadi berpikiran negatif ya, Mo, sol kamu. Padahal kan islam melarang umatnya untuk berzhu'uzon ria. Bisa digampar malaikat aku. Maaf ye, Mo.

Mo, tadi Yanti curhat padaku. Katanya kau kena tindak KDRT oleh si Sri? Eh, sejak kapan kalian nikah, Mo? Pan yang kutau kalian masih kumpul kebo. Eh... kamsudku kelet macam perangko. Dimanapun ada Sri di situ juga ada kamu. Maklum, kata si Yanti kalian ini sejoli yang sulit untuk dipisahkan. Putus nyambung nggak jelas tujuan. Bukan begitu, Mo? Yanti juga bilang, beberapa tahun lalu kau sempat diusir paksa dari dipan kayu yang statusnya sudah reot. Si Sri juga marah-marah karena kau telah menebar benih terlarang itu di mahkota paling berharga milik tetangga. Haiiiiis.... naluri binatangmu kenapa keluar sih, Mo? Coba kau sedikit mengendalikan nafsu sahwatmu, tentu Sri masih setia mencintaimu dan membiarkanmu menjelajahi setiap jengkal apa yang dia miliki. Kau ini, senengane kok puo-puo macam koruptor di Senayan.

Mencarimu, Mo


Mo, aku tak bisa mencari siapa yang benar dan salah di antara kalian. Aku sebagai manusia yang pernah kau jajaki dan singgahi saat umurku baru sepuluh, rasanya aku pun juga patut untuk marah padamu. Bukannya apa, kau telah dengan seenak udelmu terbang ke pundakku dan menyelinap di rerimbunan rambutku yang lebat. Membuat rambutku yang indah mempesona jadi banya Liso. Kau tak tau betapa gatalnya rambutku saat kau bertelur. Mamak sampai jibeg sendiri melihat ulahmu yang kelewat batas. Kau tau, Mo? Rambutku sampai dipangkas macam si Bob. Beugh trondol gitu kata orang. Itu semua gegara kamu menebar benih menyesatkan itu di rambutku. Aku sih fine-fine aja asal kau tak membuatku menjadi pesakitan dan terlihat seperti gembel jalanan yang tak terurus.

Oh, ya... Si Eni yang sekarang ada di Malaysia bersama suaminya, yang dulu juga pernah kau gauli hingga enam tahun lamanya, sekarang sudah hidup bahagia, Mo. Masih ingat dalam benak ini, saat kau dengan PEDEnya berkeliaran, berjalan ke sana ke mari, nyungsep lalu nongol lagi di balik rambutnya Eni saat pelajaran tiba. Turun lewat rambut kepangnya dan dengan seketika, si Eni memitesmu tanpa ampun. Darahmu muncrat, kau kejet-kejet tanda malaikat pencabut nyawa telah mengambil sukmamu. Huwala, Mo... itu semua membuatku bergidik ngeri. Tapi yang cukup membuatku aneh, kok ya bisa-bisanya kamu pindah ke desa Ponorogo tempat si Sri ini tinggal, Hah? Kau naik apa ke sana? Apa angin telah menerbangkan dan membelokkanmu ke rumah Sri? Aku benar-benar tak habis pikir dengan tolahmu itu, Mo... Terlalu Nylandit...heuh

Mo, aku tau kau sekarang sedang sakit hati. Sabar saja ya, Mo. Nasibmu memang tak seberuntung Su, yang di manapun berada selalu disayang orang. Aku pernah merasakannya kok, Mo. Dan para jomblo yang lain pun pernah merasakan rasanya sakit hati. Sakit saat melihat kekasih hati berjalan bersama orang lain. Ciuman di depan mata kita. Apalagi yang lebih heboh sekarang mereka nikah lakok kitanya diundang. Dan yang lebih gobloknya lagi kok masih juga mau datang pakai acara pelukan. Nyesek bener. Sakitnya itu memang benar-benar di sini, Mo. Menohok ke ulu hati. Fiuhhh.... Aku jadi emosi kan, Mo kalau bahas soal cinta.

Mo, kita sama-sama tabah aja ya. Sri emang baik bagi bangsanya. Tapi buruk bagi bangsamu. Kalau kau butuh darah segar milik bangsaku untuk menyambung hidup, pergilah ke PMI di kota terdekat yang bisa kau jangkau. Hisaplah kantong-kantong itu barang seteguk. Menyelinaplah ke selimut-selimut hangat untuk bersembunyi. Lalu, pulanglah ke habitatmu menjadi seekor Tumo yang senantiasa merindu akan kehadiran orang yang benar-benar tulus memberimu tempat bernaung.

Mo

Mo dan Bangsanya



Mo, terima kasih kau pernah jadi bagian dari hidupku. Kau, Tumo, inspirasi goresan penaku.











Readmore → Mo