Saturday, January 31, 2015

Sebuah Rasa Di Akhir Januari

Hari ini, bulan Januari pergi. Tinggal menunggu beberapa jam lagi, bulan pun berganti. Ingin rasanya menghentikan waktu untuk sehari ini. Menikmati kebersamaan yang jarang kutemukan di hari-hari yang lain. Aku selalu menantikan hari ini, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Menunggu dan berharap ada kejutan-kejutan tak terduga dari-Nya. Hal sekecil apapun yang kuperoleh hari ini menjadi sangat bermakna. Terlebih lagi, ada sosok lelaki itu. Lelaki yang selalu membuatku tersenyum.

''Apa kau bahagia hari ini?'' tanyanya sambil menyodorkan segelas coklat panas kepadaku.

''Lebih dari itu, Ko.''

''Baguslah. Aku ikut senang,'' ujarnya. Dia mengambil posisi duduk tepat di sebelahku. Sejenak, dia melipat celana jinsnya yang panjang hingga selutut. ''Apa yang kau pikirkan?'' lanjutnya yang masih sibuk dengan celananya.

''Nggak ada.'' Pandanganku beralih darinya. ''Hanya terlalu senang saja,'' kataku sambil menatap langit. Dia tertawa mendengar jawabanku. ''Apanya yang lucu?'' aku meliriknya sekilas. Lelaki ini tersenyum. Senyum yang mampu membuat perasaanku kembali tenang.

''Kau itu yang lucu, Dai. Lihat, bibirmu kalau ngambek terlihat seperti ikan cucut,'' ujarnya sambil meremas bibirku. Tawanya pun pecah saat melihat reaksiku.

''Hais... sakit, Ko.'' Lelaki ini menarik tanganku. Menggamitkan jemarinya pada jemariku. Aku tertegun. Tak ada kata untuk beberapa menit kemudian.

''Seperti Cinta, Dai. Ada kalanya kita sakit karenanya. Walau dibalik kesakitan itu, ada bahagia yang akan datang menghampirimu. Ya, seperti saat ini.''

''Ko, apa kau menyayangi gadis itu? ''

''Sulit Dai. Kau tahu aku tidak cukup kuat dan mampu untuk pindah ke lain hati dengan cepat. Semua butuh proses. Dan aku akan melakukannya, semampuku.'' Dia menggenggam jemariku semakin erat. Aku bisa merasakan amarahnya yang menggebu. Cinta yang dirasakannya karena tuntutan. Lelaki ini serasa diwajibkan untuk cepat meminang seorang gadis yang semarga dengannya.

''Apa Koko akan menikah dengannya?''

''Kurasa itu pilihan terakhir. Aku tidak akan terus membujang, bukan? Bisa-bisa aku tidak laku karena menyandang status ''Bujang Lapuk,'' jawabnya sambil terkekeh. Aku pun ikut tertawa bersamanya. Lelaki ini memang pandai menyimpan kesedihannya. Bahkan saat putus dengan pacar pertamanya, dia tetap keukeh untuk memendam rasa sakitnya sendiri. ''Kenapa kau memandangku seperti itu? Ada yang aneh, hah?''

''Nggak, Ko. Aku cuma merasa, jika Koko butuh pundakku untuk menangis, bahuku selalu siap menopang kesedihanmu,'' kataku sambil menepuk-nepuk bahu. Lelaki ini kembali tersenyum. Dia menunduk, menatap air laut yang mulai pasang.

''Cinta itu bening, Dai. Jangan pernah sesekali kamu membuatnya keruh dengan hal-hal kecil. Karena, jika kamu nggak mampu membuatnya terlihat seperti kaca maka yang akan kau dapat hanyalah sebuah masalah yang membuat sebuah hubungan akan goyah.'' Dia diam sesaat, memainkan kakinya yang sesekali tersapu ombak.

''Dan aku tidak ingin membuat masalah dengan semua ini. Kau cukup paham, bukan?'' Aku yang masih diam, hanya mengangguk pelan. Tak berani kutatap matanya yang tiba-tiba berubah sendu. Ada lingkaran kesedihan di dalamnya.

''Aku menyayangimu, Dai. Tapi kau tahu,  kan? Agama, status dan marga kita beda. Aku tidak mungkin menentang garis hidup yang ada.''

''Aku mengerti, Ko.'' Aku mencoba menyela ucapannya. Namun, lelaki ini justeru menarikku dalam peluknya. Aku dapat merasakan degub jantungnya yang bergetar hebat. Ada perasaan aneh yang menjalar di tubuhku.

''Aku akan tetap ada untukmu, Dai. Kau tidak perlu mengkhawatirkan perasaanku. Kita hanya perlu berdamai dengan waktu. Hanya itu,'' ujarnya pelan. Kurasakan bening airmatanya jatuh. Lelaki ini menangis, cukup lama dalam pelukanku.

''Berjanjilah padaku, Ko. Berjanjilah, Koko akan selalu bahagia bersamanya. Berjanjilah, untuk terus menanamkan benih cinta pada gadis itu,'' ucapku sambil melepas pelukannya. Lelaki ini tertunduk lemah. Airmatanya masih berguguran. Jemari ini menuntunku untuk menghapusnya.

''Everything will be fine, Dai,'' uajrnya sambil sesegukan. Aku pun mengangguk. Berdiri dari atas batu karang dan mengajaknya pergi. Pergi meninggalkan senja yang tak ada. Seharian ini, langit memucat. Tak ada seberkas rona pun di sana. Aku menoleh ke belakang sesaat. Memandang laut Butterfly, di pojok kota Tuen Mun. Laut yang tanpa batas. Yang tak ada pemisah walau hanya ada pada jarak pandang mata.

 Kami beranjak pulang dalam hening. Lelaki ini memilih untuk diam di sepanjang perjalanan. Sesekali dia mendesah pelan. Aku dapat merasakannya di antara lantunan lagu ''Because Of You- Kelly Clarkson. Rasanya yang menyayat hati, ketika cinta yang kita tuju tak dapat disatukan oleh waktu.

***

Ko, kau tahu...
Hari ini aku sangat bahagia walau kau sekali pun tak bisa membaca kalimatku
Aku bahagia atas apa yang kau beri selama ini

Tentang rasa...
Tentang kasih yang tak terbatas

Ko, cinta itu seperti halnya tunas kecambah yang kau berikan padaku.
Jika aku sabar dan telaten merawatnya, ia akan terus tumbuh, menjulang sampai ke batas yang kita tidak akan tahu.

Ko, cinta itu seperti halnya jimat biru penangkal hujan ini. Walau kau sudah berusaha menangkal perasaanmu tapi kau tidak akan pernah tahu bahwa rasa itu akan tetap datang tanpa kau tahu kaan waktunya.

Ko, cinta itu seperti Boofley ini. Dia akan menjagaku dalam gelap malam walau sekalipun itu tanpamu. Membuatku tak akan pernah ketakutan lagi dalam heningnya gulita.

Ko, love you more than ever and more than anything.










No comments:

Post a Comment

Featured Post

Q