Friday, January 2, 2015

Su

Su... Hari ini aku sungguh tercengang melihat penampilan barumu. Lima tahun yang lalu, terakhir kali aku bertemu denganmu. Itupun hanya sebatas suaramu yang meraung-raung dari balik pintu besi, seperti rengekan bayi yang minta disusui ibunya. Masih jelas sosokmu difoto kala itu, Su. Kau masih terlihat dekil. Matamu juga tak bisa terbuka secara sempurna, tertutup oleh kotoran yang menjijikkan. Kau bahkan tak bisa tersenyum seperti sekarang ini. Ah, Su... kau sudah jauh berbeda dari perkiraanku sekarang, Su.




Su, sungguh mulia hidupmu di kota ini. Kau termasuk salah satu yang beruntung karena diadopsi oleh keluarga Singkek muda itu. Banyak kerabat dan penghuni sekitar rumah yang sayang sekali padamu. Bahkan, Singkek muda itu rela mengeluarkan uang berjuta-juta hanya demi melihatmu  kembali normal. Singkek muda itu juga sudah mengambil seorang pembantu untuk mengasuhmu.  


Kemarin, saat pembantumu yang juga temanku menelpon, dia banyak cerita tentangmu, Su. Sekarang, kau lebih manja katanya. Makan pakai acara suap-suapan. Bayangkan kalau di Indonesia, sudah kena ciduk KPK  kau ini. Terlebih temanku bilang kau tak mau minum sendiri. Temanku harus mencangar mulutmu agar kau mau minum barang seteguk. Bahkan saat mandi pun kau minta dimandiin. Tidur minta dikelonin, enak juga ya menjadi kau ini. Tak terbayang nasib para jomblo di Indonesia yang sekali merana karena malam jumat dan minggu tiba. Aih... mereka selalu oar-koar di mana-mana. Ajegile manjanya kau ini, Su. Bagaimana bisa makhluk sepertimu mendapat perlakuan spesial bak dewa-dewi di Kahyangan itu, Su? Huwala, Su, nikmat mana yang kau dustakan sekarang.

Lihatlah, kau jadi lebih cantik dari yang lain, sebangsamu. Kau senantiasa memakai baju di kala manusia (sebangsaku) bertelanjang tanpa rasa malu. Kau bahkan mulai membiasakan diri mengenakannya walau aku tau kau terlihat risih. Jalanmu tak seperti anjing normal. Terseok-seok, karena kain itu terlalu panjang untuk kau kenakan. Sempat, kau tersungkur dan jatuh. Tulangmu patah dan harus dioperasi. Kasihan sekali kau, Su. Perjuanganmu memakai baju justeru menyengsarakanmu. Yang sabar ya, Su. Kesabaran selalu membuahkan kesuksesan. Masih banyak sebangsamu yang hidupnya susah. Kau ingin tau ceritaku tentang bangsamu di desaku, Su. Mereka semua jarang mendapat perlakuan baik. Bahkan, lebih buruk dari saat pertama kali kau lahir. Mereka mendapat makanan basi pun jarang mandi. Tiap malam melolong seperti srigala merindukan purnama. Aih, ngeri pokoknya, Su.




Oh ya, Su, kemarin kau ulang tahun, bukan? Tentu sudah bertambah lagi umurmu sekarang. Seharusnya, kau bisa merubah perlakuan burukmu itu. Kau tahu? Dengan bertambahnya umur tentu berkuranglah masamu di dunia yang fana ini. Kau harusnya memberi sedikit kelonggaran pada temanku, agar dia bisa beristirahat barang sejenak. Tidak malah merepotkannya saat Singkek muda itu pacaran di rumah. Harusnya kau bisa sedikit manja pada Singkek mudamu itu agar dia bisa lebih mengerti bagaimana manjanya kau sekarang. Kenapa kau tak berfikir sampai ke situ, hah? Mungkin, aku sedikit kurang waras karena mengajakmu berbicara lewat coretan kata seperti ini. Apalagi menyampaikannya di Sosmed. Karena, aku tau kau hanya seekor binatang yang tak punya akal dan bisa membaca setiap kalimat yang kulontarkan. Namun, dibalik itu semua aku tau, kau mengerti tentang perasaanku padamu, Su. 








Su, kiranya sudah panjang sekali tulisan tentangmu ini. Kuharap, para readerku paham apa yang aku sampaikan tentangmu. Berharap pula, mereka dapat mengambil sisi baik darimu. Walau kau hanya seekor anjing yang bernasib mujur.







No comments:

Post a Comment

Featured Post

Salat Idulfitri Di Hong Kong 1440H