Thursday, January 22, 2015

Racun Cinta

Sunbae, hari ini aku sudah memenuhi semua tantanganmu. Sekarang aku sudah bisa dikatakan sebagai perempuan dewasa, kan? Hari ini, sesuai persyaratanmu, aku memakannya. Walau dengan berat hati dan tidak ikhlas. Apa aku terlihat bodoh, Sunbae? Mempercayai perkataanmu yang konon katanya jika memakan ramuan itu aku bisa berubah menjadi perempuan yang lebih anggun, elegan dan satu hal, tidak kekanak-kanakan lagi. Apa selama ini aku seperti bocah tak punya pikiran, hah?

Kau tahu, Sunbae? Perutku kini, tiba-tiba memanas. Blekutuk-blekutuk begitu bunyinya. Lambungku sempat perih sesaat. Dan sekarang, rasanya aku tidak bisa bobok dengan nyenyak gegara perutku terus bernyanyi dan berdancing, ha ha hi hi.

Aih... Kenapa aku terlalu menurut padamu, Sunbae? Kenapa coba? Padahal kau tahu, ramuanmu itu racun, bukan candu. Apa karena aku terlalu menyukaimu hingga apapun yang kau katakan hanya bisa kuiyakan tanpa memikirkan akibat dibelakang. Puh, Sunbae... Jantungku serasa berdetak-detak tak karuan. Berpacu bagai melodi yang tak bisa diiringi oleh alat musik apapun.

Oh...

 Apakah ini yang dinamakan Cinta, Sunbae? Ketika dirasa hanya ucap iya sebagai jawabnya.
Apakah ini yang dinamakan Cinta? Ketika cabe berubah menjadi mente.
Apakah ini yang dinamakan Cinta? Yang bisa menyulap racun menjadi sabun. Eh... Jadi jaka sembung

Oh... Yang jelas, ini yang dinamakan Racun Cinta. Hingga tai kucing rasa coklat. Pokoknya manis, Nis. Tapi aku emoh maem kotorane kucing. Walaupun rasane coklat. Gilani.

Menjawab tantanganmu hari kemarin, yang katamu aku masih terlihat seperti gadis belasan tahun karena tetap sedikit pun tak suka cabe. Maka hari ini aku memproklamasikan diri membuat racun cabe spesial untuk diriku sendiri. Jangan tanya rasanya. Pokok e yawes ngunu iku. Kau sudah tahu aku tidak begitu hebat dalam urusan dapur. Pokok e aku doyan, gitu ae wes. Ndak mau repot juga akunya.

Kau mau tahu resepnya, Sunbae?

Tadi aku beli tomat 6 butir. Tak pakai 4 butir, yang 2 butir buat justomat. Cabenya $ 6 nggak ngitung. Bawang putih 1 bungkul. Sedikit jahe dan 4 ekor ikan (giling). Tadi semua bahan aku goreng, kasih garam lalu ditumbuk. Dan jadilah.






Rasanya? Pokoknya jangan ditanya. Melebihi racun tikus walau aku belum pernah minum racun itu. Aku sendiri antara kolu dan ndak kolu memakan racun ini. Tapi demi kau. Demi kata-katamu. Demi janjimu, Sunbae. Aku rela menelannya. Memasukkannya ke dalam perutku. Memperkenalkan pada usus kecil, lanjut ke usus besar dan melelehkannya menjadi sebuah energi paling OYE. Tapi ini bukannya OYE malah NGGLELE. Bih, aku jan kayak orang keracunan sungguhan. Mungkin, jika yang buat racun ini Mamase aku, pasti agak sedikit enak. Bahkan mungkin juga enak. Kau tahulah, tangan Mamase aku lebih hebat dalam urusan perdapuran daripada aku. Pokoknya Mamase aku is the bestlah. Tak ada yang menandingi. Sifu di restoran pun kalah. Apalagi dia, si Cep Juna. Jauh.......!

Oh ya Sunbae, kau benar plus jenius. Benar katamu, racun ini dapat membuatku seketika menangis. Sejadi-jadinya, maah. Hal yang paling susah kulakuan beberapa hari ini. Aih, serasa menemukan cara jika hati sedang mengkal dan ingin menangis. Ya, tentu. Dengan memakan racun ini. Entah, akan habis berapa bulan. Aku tidak bisa memastikan. Yang jelas, aku akan memakannya sedikit demi sedikit supaya cepat gede. Eh... Kau sendiri kan yang bilang, ''orang yang gemar makan cabe pasti cepet gede.'' Dan aku akan memakannya, biar cara pandang kita sama.

Sunbae... Rasanya aku kehabisan kata
Selamat malam saja ya, Sunbae.
Semoga kau selalu bahagia di sana.

No comments:

Post a Comment

Featured Post

Flash Fiction : Perempuan Yang Menginginkanku Mati

Aku tidak tau jalan pikiran apa yang merasuki perempuan ini hingga keukeh ingin membunuhku. Cairan yang tak kuketahui namanya itu, nyaris k...