Wednesday, February 18, 2015

Memory 6 February

Tujuh tahun lalu, untuk pertama kalinya aku mendengar suara tangisanya. Mendekapnya sesaat dalam pelukanku. Melihat kelopak netranya yang belum bisa terbuka secara sempurna. Ada rasa bangga bercampur haru menyelinap dalam  relung kalbu. Betapa tidak, setelah sembilan bulan dalam penantian, akhirnya malaikat kecil itu lahir dengan selamat dari rahimku. Dan sejak itu pula, aku resmi menyandang gelar seorang ibu.          

Tentang Sebuah Nama

Malaikat kecil itu kuberinama Pandu. Pandu Alam Prawiradinata, lengkapnya. Nama ini sesuai nazar saat pertama kali dia bersemayam dalam rahimku. Aku pun tidak pernah mempersiapkan nama lain selain nama Pandu. Sejak awal, aku sudah berprasangka baik Pada-Nya bahwa kelak Dia akan memberiku seorang bayi laki-laki. Makanya, aku tidak pernah memikirkan nama selain nama Pandu.

Kenapa tidak dengan nama Lain? Misalnya, nama dari barat, Arab, Cina atau Korea, yang sekarang ini lebih ngetrend, terlihat modern  dan tidak kampungan. Halo.... Bapak Ibu yang budiman. Apakah kalian tahu? Nama adalah sebentuk doa yang diberikan orang tua kepada anaknya. Nama bukanlah masalah trend, ikut-ikutan budaya televisi atau bangsa yang sedang booming. Bagiku, nama mengandung kekuatan sakral yang tidak semua orang bisa paham akan keberadaan artian tesebut. So, jangan pernah menyepelekan sebuah nama.

Tentang sebuah Rasa      

Sejak pertama kali aku divonis bu Bidan hamil. Aku tidak pernah sekali pun ingin melihat bagaimana kondisi malaikat kecilku Di dalam rahim. Aku hanya mampu mendengar detak jantungnya yang menggebu  lewat alat bantu bu Bidan kala itu. Aku tidak berusaha untuk meng -Usg -nya. Padahal setiap PASUTRI  pasti akan merasa penasaran dengan jenis kelamin anaknya saat masih berada dalam kandungan. Apakah laki-laki atau Perempuan? Di era modern seperti  ini sangat gampang untuk mengetahui hal semacam ini. Di eraku sebenarnya juga  sudah  ada sih, tapi aku tidak mau ikut-ikutan.  Aku ingin semuanya serba surprise. Apapun yang diberikan oleh- Nya akan kuterima dengan senang hati. Bahkan sampai hal terburuk sekalipun. Bukankah kejutan itu lebih indah daripada kita mengetahuinya terlebih dahulu?  Dan alhamdullilah,  semua lancar.

" Hiduplah bersama doa maka jalan yang kau tempuh akan selalu bahagia."

                                          Tentang Sebuah Firasat

Saat aku mengadung Pandu, aku sudah bisa menebak bahwa bayiku adalah laki-laki. Entah darimana datangnya firasat itu. Aku hanya meyakini bahwa Tuhan akan memberiku bayi laki-laki. Itu saja. Banyak sih sebenarnya firasat-firasat aneh yang lewat dalam mimpiku. Sempat juga cerita sama orang tentang mimpi itu tapi katanya mimpi adalah bunga tidur semata. Tidak perlu dianggap serius kata mereka. Dan akhirnya dia  sadar satu hal bahwasanya setiap mimpi pasti ada maknanya dikemudian hari.

Tentang firasat lain yang aku rasakan adalah ketika acara tujuh bulanan. Biasanya, para ibu hamil di tempatku akan disuruh membuat rujak uyup. Seperti minuman yang rasanya bisa nano nano. Dulu, rujak uyupku pas, nggak sengak atau pedas. Kata orang itu menandakan bayinya laki-laki. Dan betapa kagetnya aku, ternyata semua firasat yang singgah selama aku hamil terbukti nyata. Subhanalllah.....

Apakah kalian pernah merasakanya, Bu?

"Betapa indahnya masa-masa hamil itu."

Miss u, Malaikat kecilku.... 

No comments:

Post a Comment

Featured Post

Flash Fiction : Perempuan Yang Menginginkanku Mati

Aku tidak tau jalan pikiran apa yang merasuki perempuan ini hingga keukeh ingin membunuhku. Cairan yang tak kuketahui namanya itu, nyaris k...