Sunday, March 15, 2015

Assalamualaikum Beijing



Kemarin, aku mengantarkan gadis itu menemui kenalannya di sosial media untuk mendapatkan buku ini, Assalamualaikum Beijing. Buku yang sudah beberapa bulan terakhir yang dijanjikannya akan dihadiahkan untukku. Aku tak menyangka bahwa ia akan memberikannya padaku. Tak nampak raut keseriusan yang terpancar dari wajahnya ketika itu. Dan kemarin ia menunaikan niatnya memeberikannya padaku.

So surprised for me

Tak ada harapan yang lebih bermakna dari sebuah ketulusan. Aku meyakini itu dari sahabat-sahabatku yang sekarang berada di sisiku. Tak ada yang lebih berharga dari perhatian mereka padaku.

Ada cerita lucu pula dibalik novel ini. Penjualnya yang juga adalah temanku di Facebook ternyata tak mengenaliku.

Opo nggak nelongso Jal...

Aku menatapnya cukup lama saat dia menjadi MC di acara LMI (Lembaga Managemen Infak). Anggun, cantik dan tentu saja, ia pintar membawa diri. Tidak canggung berhadapan dengan mata-mata yang setiap detik melihatnya.

Aku pernah punya bayangan seperti itu, berdiri menjadi seorang pembawa acara atau pembicara di suatu event. Tapi niatku kalah, tak berani aku mencoba. Aku masih saja deg-degan ketika harus bersuara di depan banyak orang. Demam panggung. Rasa itupun masih sama, seperti saat kubacakan UUD 1945 sewaktu masih sekolah dulu. Aku masih gagu untuk berbicara lancar dengan orang-orang yang tak akrab denganku. Hanya berani bertegur sapa saja di facebook, hanya itu. Selebihnya, nothing.

Tentang Assalamualaikum Beijing

Novel ini menceritakan kisah cinta seorang gadis bernama (Asma) Ra bersama dengan seorang pemuda bernama Dewa. Cinta yang terjalin empat tahun itu harus kandas begitu saja karena sebuah nafsu. Nafsu yang menjerat Dewa pada sebuah penyesalan tanpa ujung. Ia harus rela kehilangan cintanya dan menikahi gadis lain karena kesalahan yang dibuatnya malam itu.

Dan Ra, harus merelakan kekasih hatinya pergi menunaikan kewajibannya sebagai lelaki sejati. Yang bertanggungjawab dengan setiap apa yang mereka perbuat.

''Pasangan hidup itu hanya Tuhan yang tahu. Mereka hadir secara tak terduga bahkan mungkin kita tak mengenalnya sebelumnya.''

Dan Asma atau Ashima, panggilan sayangnya dari seorang pemuda Xi-an bernama Zhongwen yang rela menerimanya menjadi pendamping hidup walau fisiknya tak sempurna. Begitulah kekuatan cinta yang diceritakan dalam novel ini.

''Cinta sejati itu ia yang mau menerima kita apa adanya.''

Beijing, salah satu kota yang ingin sekali aku kunjungi suatu nanti, entah sendiri ataupun bersamamu, Kasih.

^_^ masih berhubungan dengan hadiah di hari Minggu.

No comments:

Post a Comment

Featured Post

Q