Tuesday, July 28, 2015

Sup Cindil Tikus Dan Sup Ular

Sup Cindil Tikus Dan Sup Ular

Desember 2011 lalu, saat aku pertama kali kerja di rumah majikan keduaku ini, aku menemukan sebotol barang keramat yang umurnya hampir sama dengan umurku saat itu, dua puluh empat tahun. Kala itu aku nggak begitu ngeh dengan benda keramat ini. Aku pikir, hanya sebuah pengawetan hewan yang biasa dilakukan oleh orang-orang yang mungkin ingin mengabadikannya. Ternyata usut punya usut, barang itu memang sengaja disimpan oleh Kakek dan baru ketahuan saat aku datang ke rumah ini.
Horor, begitulah aku menyebutnya. Benda dalam botol ini bukanlah Jin atau bangsa dedemit yang menghasilkan banyak duit. Ini adalah cindil alias anak tikus yang baru lahir dan di awetkan bersama arak dan nantinya bakal dibuat sup atau hanya diminum airnya saja sebagai obat kuat.  Setidaknya itu penjelasan dari kakek.
Soal rasa? Ah jangan ditanyalah. Bikin mabok sembokl maboknya. Kamu bisa membayangkan, tikus mati yang diawetkan bersama arak yang umurnya hampir sama dengan umurmu saat ini. Kalau anggur sih nggak sebegitu masalah ya. Karena dalam fermentasi, semakin  lama masanya, semakin enak dan nikmat saat meminumnya.
Pada tahun itu pun, aku sempat mengoktak  Mamak dan menceritakan hal ini. Seketika itu juga, Mamak langsung kena serangan Morning Sick. Wes macam orang hamil itu ae. Aku dengerinya sampai nggak tega. Mungkin juga Mamak ketika  itu keingetian dengan cindil-cindil tikus yang memang menjadi penghuni tambahan di rumahku. Sekalipun telah di usir dan dibasmi menggunakan racun yang dosisnya melebihi  takaran, tetap saja itu Ibu tikusnya beranak pinak. Malah semakin banyak. Ibarat kata sih ya,  mati satu tumbuh sejuta. Apa kalian tahu? Tikus itu sekali melahirkan bisa sampai 10-15 ekor. Dulu, pas jamanku masih SMP ada sebuah penelitian yang menyebutkan bahwa untuk mengurangi tingkat kesuburan kalian (ibu-ibu) bisa meminum atau mengkonsumsi sari pati dari pohon Jarak. Entah daunnya atau getahnya aku lupa sih. Yang melakukan reset ketika itu orang Bojonegoro.  Dan sebagai bahan percobaanya ya tikus ini. Karena hewan yang satu ini sanggat produktif dan subur kandungannya. So, buat ibu-ibu yang nggak pengen hamil, nggak usah deh suntik KB atau minum pil-pil itu. Salah-salah tambah bedah alias rusak di tubuh.

Kembali ke cindil tikus, sore tadi selesai  pulang membeli melon, aku tak sengaja lewat di depan kios penjualan sup cindil dan ular yang letaknya tak jauh dari rumahku. Belakang MC, tepat di jalan Hoi Pa Street (Tsuen Wan) atau kalau yang ada di atau tepat di kanan kios ikan dan kura-kura langgananku. Tokonya kecil, 1x2 m perkiraanku. Tadi sih pengennya foto buat jadi bukti tentang ceritaku ini, biar nggak disangka hanya bualan belaka. Tapi sayangnya sama pemilik took ndak boleh.  Maklumlah nggak pengen terkenal mungkin. Kan siapa tahu, dengan aku mempubliskannya ada warga sekitar yang tertarik untuk membelinya. Walau mungkin mereka nggak paham betul dengan tulisanku ini. Seenggaknya kan bisa di translate sama Eyang Google.

Tentang sup ular, atau ular itu sendiri sih ya jelanya udah pada tahu ya. Kalau makan ular itu bisa mempercantik dan meremajakan kulit. Bagus katane buat kulit-kulit kita. Orang Cina suka sama makanan yang satu ini, walalu hanya sebagian saja. Mulai dari rasanya yang enak dan empuk banget, soalnya tanpa tulang. Nggak kalah deh sama KFC atau sejenisnya. Haram loh katanya makan ular sih. Spalnya ular kan bertaring. Tapi nggak tau juga sih bagi mereka yang doyan dan buat jamu. Urusan mereka sama Tuhan. Biarlah yang di Atas memberikan petunjuk bagi mereka. Kita orang awam mah ndak perlu ikut-ikutan,

Harga? Jangan ditanya jugalah. Mahal banget. Tadi diplakatnya ditulis $300-$800. Nggak tahu juga sih, ini untuk yang ular atau cindil tikus tersebut. Wong pas ditempelnya di toples cindil itu sih. Tadi juga pas lihat di toko itu, dua orang lelaki dan perempuan tengah menikmati dengan lahap supnya. Aku nggak berani memfoto mereka lah. Ntar malah dituntut hokum karena menyebarkan sesuatu yang tanpa seijin yang empunya. So, fotonya cukup botol keramat ini saja ya. Sudah habis sih isinya. Botolnya pun telah berpindah tempat. Ya semoga saja para tikus-tikus itu nggak berontak karena bayi yang mereka lahirkan dibuat sup oleh bangsa manusia.
Andai si Akoh dekat sama rumahku, tak suruh angkutin bayi-bayi tikus tanpa bapak yang tak bertanggung jawab itu untuk diawetkan. Pan lumayan :v Tapi ya takut dosa sih ya.  Kitanya jadi pembunuh bayi-bayi yang tak bersalah. Eh.

Yaudah….berhubung telah panjang dan hari telah kelewat malam, kuakhiri cerita ini sampai di sini saja ya. Semoga apa yang kita dapatkan hari ini menjadi pencerah di  keesokan hari.

Selamat Malam Hongkong, Aku masih menyetiakan diri di sini memandangi apa yang seharunya kujalani.
Bayi Tikus yang telah di awetkan selama 24 tahun

1 comment:

Featured Post

Cara Cepat Buat Barner Promosi Di Adobe Photoshop CC 2019

Jasa pembuatan barner, memang banyak sekali dicari akhir-akhir ini. Resep ini aku dapat dari buku Photoshop CC the missing manual karya Les...