Saturday, April 30, 2016

Dear Wesley



    Hujan selalu membawa berkah pada hati yang mencinta. Hujan memberikan kedamaian sekaligus kebahagian pada jiwa yang tengah dimabuk asmara. Dan kali ini, hujan  bikin aku dan kamu menjadi satu di bawah teduhnya payung yang kau genggam untuk melindungiku dari rintiknya. Malam mingguku serasa seperti di awang-awang. So sweet deh pokoknya.
                                                                                ***
     Hari ini, tak kuduga bisa bertemu denganmu di rumah sakit. Kamu sedikit beda, terlihat kurus. Tapi tetap sama bagiku, masih terlihat maskulin. Seperti biasa, kita selalu bermain isyarat, entah dengan bahasa tubuh atau hanya dengan tatapan mata. Kamu lelaki yang paling romantis yang pernah aku kenal. Setidaknya itulah yang aku lihat dari sosokmu yang misterius.
     Kamu selalu memerhatikan setiap kebutuhanku dan menanyakan perihal apapun selama kita tak bertemu. Apakah aku baik-baik saja di rumah? Bagaimana makanku? Bahkan, kamu juga sempat menanyakan bagaimana liburanku di Indonesia kemarin?
    “Tentu tak seindah dengan apa yang kamu bayangkan. Indonesia panas dan kulitku belum bisa beradaptasi di sana.“ Kamu hanya tersenyum dan menyarankanku untuk selalu memakai lotion saat cuaca panas. Aku hanya mengangguk dan mengikuti langkah kakimu sesaat setelah memastikan kakek tidur.
     Berjalan berdua saja denganmu adalah hal yang selalu aku harapkan. Dan hari ini, semua itu menjadi nyata. Sepanjang jalan, aku tak mampu menahan semua kegembiraan ini. Ah, mungkin aku hanya sedikit baper. Tapi bagaimana lagi, Tuhan selalu punya rencana yang indah buatku.
     “Minggu depan kamu mau jadi libur?” tanyamu. Ada perasaan khawatir di raut wajahmu, mengingat kakek masih ada di rumah sakit.

     “Iya, Cuma mau lihat hasil lomba. Belum tahu menang atau tidak. Tapi jangan khawatir, selepas lomba aku langsung ke rumah sakit,” kataku mendamaikan perasaanmu. Aku tahu ada kelegaan tersendiri di hatimu.
     Tak berapa lama kita berjalan, gerimis pun datang. “Ah, sial,” umpatku dalam hati. “Kenapa harus datang di saat seperti ini?”
     Kamu mengajakku berlari, menembus gerimis yang semakin lama rintiknya semakin deras saja. Aku terus mengikuti langkah kakimu yang panjang.  “Ah, nggak jadi romance. “ Aku terus menatap langit. Merasakan rintiknya menyentuh wajahku. “Kenapa di saat seperti ini langit tidak pernah bisa bersahabat denganku.”
     AKu tahu kamu menatapku cemas. Kamu tahu tubuhku rentan sekali terhadap serangan hujan. “Kita berteduh dulu.” Aku mengangguk dan mengikuti saranmu. Dan di luar dugaan, kamu berlari menembus hujan dan menyuruhku untuk tetap menunggu di tempatku. Tak ada lima menit kamu kembali dengan sebuah payung yang baru saja kamu beli di toko yang tak jauh dari tempatku berdiri.  “Ayo pulang!” ajakmu.
   AKu pun mengangguk.  Ah, tak ada yang seromance ini di saat hati tengah dirundung kegalauan. Aku berucap hamdalah berulang kali. Tuhan selalu menyelipkan kebahagiaan di setiap kesusahan. Bukankah begitu? Dan ya, hari ini aku merasakannya. Kebahagiaan-Nya di balik hujan. Sungguh, selalu ada hal tak terduga yang Tuhan selipkan buat kita. Apakah kita sudah merasa bahagia dan bersyukur hari ini?
    Sepayung berdua, siapa yang menduga hal itu terjadi pada kita. Sepanjang perjalanan pulang, tak henti-hentinya  bibir ini merekah. Kamu tahu bagaimana perasaan hatiku. Hati ini rasanya penuh bunga yang bermekaran. Ingin rasanya berteriak, “Terima kasih Tuhan atas berkahmu.”  Kamu sungguh melindungiku dengan caramu.
                                                                                ***
   “Teriima kasih,” ujarku setelah kita sampai di rumah. Kamu hanya mengangguk dan tersenyum. Senyum yang mampu membuat jemari ini bisa merangkai kata. Kata cinta yang terpendam. Yang tak bisa dipersatukan karena terbentur oleh tembok penghalang yang menjulang hingga menembus langit ke tujuh. Aku bersyukur, walau kita tak mungkin bersatu, setidaknya aku bahagia bisa mengenalmu.  
                                                               
    Terima kasih buatmu. Yang hingga detik ini menjagaku di sini. Di kota yang jauh dari kekasih hatiku.  Jika nanti  hari itu datang, setidaknya aku tak akan cemburu, karena jauh di ujung sana, sudah ada seseorang yang tengah menungguku dengan setia dan seiman tentunya.

                                                           ***

     Sebuah kisah nyata yang baru aku alami bebarapa jam sebelum tulisan ini aku buat. Semoga kelak, kamu bisa membacanya. Andai tadi ada yang bisa memfoto kita dari belakang, mungkin foto ini nggak akan kucuri untuk pelengkap blog ini. Ah, tak apalah ya, semoga kelak kita bisa berfoto berdua saja. 







No comments:

Post a Comment

Featured Post

2 Dokter Mata Di Hongkong Yang Paling Recommended

Hai teman-teman, buat kalian semuannya yang kemarin nanya tentang dokter mata, ini aku bagikan 2 dokter mata yang ada di Hongkong tentunya ...